Injil Lukas

22/01/2010

Injil Lukas

Sebuah novel untuk orang-orang asing.

Harold W. Attridge

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

Apa yang kita ketahui, kalau memang ada, tentang Lukas?

Tradisi-tradisi melaporkan bahwa Lukas adalah seorang teman seperjalanan Paulus, seorang dokter dan karena itu orang yang terdidik dalam kebudayaan sastra dan ilmiah Hellenistik. Semua itu adalah tradisi-tradisi sekunder dan kebanyakan ahli memandang mereka sebagai agak tidak bisa diandalkan. Apa yang bisa kita simpulkan dari Kisah Para Rasul dan injil ketiga itu adalah bahwa penulisnya adalah orang yang suntuk dalam alkitab, dalam Septuagint, dan yang sadar akan pola-pola kesastraan Hellenistik, baik yang historiografis maupun novelistik. Dan pola-pola itu jelas memberikan impak pada produk-produk sastra Lukas.

Apa yang Lukas tulis?

Lukas menulis dua karya, injil ketiga, sebuah kisah tentang kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus, dan Kisah Para Rasul, yang merupakan kisah tentang pertumbuhan dan ekspansi Kristianitas setelah kematian Yesus sampai ke akhir pelayanan Paulus.

Gambaran Yesus seperti apa yang muncul dari tulisan Lukas?

Dalam Lukas, Yesus muncul terutama sebagai seorang guru, guru kebijaksanaan etis, orang yang percaya diri dan tenang dalam mengajarkan etika. Orang yang bersemangat besar untuk menanamkan keutamaan-keutamaan cinta kasih dan sikap pengampun di antara para pengikutnya.

Apa yang kita ketahui tentang konteks dalam mana Lukas menulis?

Lukas diperkirakan menulis dalam paruh kedua abad pertama, kemungkinan besar dalam lingkungan yang sepenuhnya Hellenistik. Para ahli memperkirakan injil itu ditulis di Antiokia, yang dahulu merupakan kota Hellenistik penting, atau di Asia Minor, di tempat-tempat seperti Efesus atau Smyrna. Entah mana yang benar, yang jelas Lukas pasti akrab, dan melakukan dialog yang sangat intens, dengan kebudayaan Hellenistik yang dikonsepsikan secara luas.

Apa kira-kira masalah-masalah besar dari gereja-gereja Kristen lain yang mungkin tengah ia tanggapi?

Salah satu dari masalah-masalah utama yang ditanggapi oleh tulisan komposit injil Lukas dan Kisah Para Rasul adalah apakah orang-orang Kristen bisa menjadi warga negara yang baik dari Kekaisaran Romawi. Bagaimanapun juga, pendiri mereka dieksekusi sebagai seorang penjahat politik, dan mereka tengah dikait-kaitkan dengan hancurnya Yerusalem, dan sementara orang pasti menganggap mereka sebagai provokator, sebagai revolusioner. Dan Lukas dalam potretnya ingin menunjukkan bahwa Yesus sendiri mengajarkan sebuah ethika yang sepenuhnya laras dengan kewarganegaraan yang baik dari kekaisaran itu. Dan bahwa, terlepas dari fakta bahwa salah satu dari tokoh-tokoh utama dari Kisah Para Rasul sendiri dieksekusi, yaitu Paulus, sekalipun itu adalah kesalahan yang serius dan sama sekali tidak berhubungan dengan program politik, [komunitas Kristen] itu sama sekali tidak berbahaya . . . .

Holland Lee Hendrix

President of the Faculty Union Theological Seminary

INJIL LUKAS/KISAH PARA RASUL —SEBUAH ROMANCE KRISTEN PURBA

Injil Lukas/Kisah Para Rasul adalah sebuah contoh yang menarik mengenai literatur Kristen purba yang tengah berkembang sebab penulisnya sekarang menggarap karya itu . . . . dengan penugasan dari seorang benefactor. Dan ia menjalankan tugasnya dengan cara yang sangat, sangat metodis, sebagaimana akan dilakukan oleh seorang penulis Romawi yang baik. Ia menggarap panggungnya secara historis, sebagaimana akan anda harapkan dari novel yang nyaris historis, dan kemudian ia menceritakan sebuah kisah yang sangat mentakjubkan. Sungguh, itu adalah kisah yang begitu mentakjubkan sehingga banyak ahli membandingkannya dengan literatur novelistik di jamannya, dan menginterpretasikan Lukas/Kisah benar-benar sebagai sebuah romance Kristen purba, dengan segala macam bahan-bahan romance-nya, sampai ke kapal-kapal karam dan hewan-hewan eksotik dan tumbuh-tumbuhan eksotik, pribumi-pribumi kanibalistik—segala macam rumbai-rumbai yang orang bisa temukan dalam literatur romance di jamannya.  Tetapi itu digarap dengan cara yang secara historis sangat berdisiplin, atau setidak-tidaknya dengan cara yang terkesan berdisiplin historis, oleh seorang penulis yang sangat cermat, yang mengidentifikasikan diri sebagai seorang seniman di bawah naungan ekonomis seorang benefactor tertentu. Jadi Lukas/Kisah merepresentasikan sebuah panggung yang sangat menarik dalam evolusi literatur Kristen purba. Literatur itu tengah mengalami Romanisasi yang suntuk.

YESUS DALAM LUKAS

Yesus-nya Lukas adalah sosok orang kuat yang sangat besar. Maksud saya, ia muncul di panggung sebagai seorang nabi yang keluar langsung dari Kitab Hibrani. Pada penampilan pertamanya di sinagoga kota kelahirannya, ia mengutip nabi Yesaya, dan itu adalah bagian yang bicara tentang membebaskan orang-orang yang tertindas dan membuat orang-orang buta pada bisa melihat. Yesus adalah sosok orang kuat dan menggebrak sebagai seorang liberator, seorang pekerja mukjijat besar. Tetapi juga, dan ini menarik dari sudut pandang kepengarangan Lukas, juga sebagai seorang benefactor maha pemurah. Ia juga sosok yang membagi-bagikan karunia-karunia Tuhan dan Tuhan berulang-ulang dipandang sebagai sosok maha pemurah dalam Lukas/Kisah. Jadi barangkali dalam injil Lukas lah Yesus mendapatkan penggambaran sebagai sosok paling kuat, dari aneka macam perspektif, sebagai nabi, sebagai penyembuh, sebagai penyelamat, sebagai benefactor.

Helmut Koester

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

YESUS DALAM LUKAS —MANUSIA ILAHI

Pada dasarnya Lukas melukiskan Yesus dalam injil itu sesuai dengan imaji tentang manusia ilahi. Pribadi dalam mana kuasa ilahi itu kasat mata dan dimanifestasikan, baik dalam pengajarannya maupun  dalam mukjijat-mukjijat yang dilakukannya. Imaji manusia ilahi itu juga merupakan bagian dari naratif perjalanan Yesus. Injil Lukas adalah satu-satunya injil yang mempunyai naratif perjalanan panjang Yesus . . . . Motif perjalanan itu adalah motif yang sangat penting di jaman kuno untuk menggambarkan kehidupan orang-orang ilahi besar, para pekerja mukjijat, guru-guru . . . .

Motif manusia ilahi itu bahkan penting sepanjang sengsara dan kematian Yesus, sebab Yesus mati sebagai martir secara sempurna, sebuah kematian yang pantas diteladani. Tidak ada teriakan, “Tuhanku, Tuhanku, mengapa kau meninggalkan aku?” Tetapi Yesus mati dengan menyerahkan rohnya ke tangan Bapa, sebagaimana seorang martir saleh harus lakukan dalam sebuah kematian yang penuh kesengsaraan. Jadi imaji tentang Yesus itu adalah imaji yang sepenuhnya dikembangkan dari imaji tentang manusia ilahi . . . .

L. Michael White

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

AUDIENS LUKAS

Berbeda dari Markus atau Mateus, injil Lukas jelas ditulis untuk audiens non-Yahudi. Secara tradisional Lukas dianggap sebagai salah seorang teman seperjalanan Paulus, dan dengan demikian bisa dipastikan pengarang Lukas itu berasal dari kota-kota Yunani kuno di mana Paulus berkarya. Injil Lukas adalah produk dari Kristianitas Pauline. Dan karena itu injil itu menceritakan kisahnya dengan cara yang agak berbeda dari injil-injil yang lasin. Injil itu mempunyai kepentingan-kepentingan yang berbeda. Injil itu mempunyai masaalh-masalah thematik yang berbeda. Barangkali injil itu memiliki suatu kesadaran-diri politis yang juga berbeda karena penulisannya terutama adalah untuk orang-orang non-Yahudi di kota-kota Yunani kawasan Asia Minor atau negeri Yunani sendiri.

Audiens Lukas rupanya adalah audiens yang jauh lebih terdidik dalam hal sastra. Bahasa Yunani Lukas memiliki kualitas tertinggi dalam gaya dibandingkan dengan teks lain manapun dalam Perjanjian Baru. Jika dibaca tulisan itu terasa seperti sebuah novel dalam tradisi Yunani, jauh berbeda dari injil Markus, yang memiliki kualitas kasar dalam hal tata bahasa Yunani. Jadi siapapun di jalanan kota Yunani yang memungut injil Lukas akan merasa sangat akrab dengan karya itu jika mereka bisa membaca karya Yunani yang bagus . . . . . Tradisi menyatakan bahwa Lukas sebenarnya adalah seorang teman seperjalanan Paulus. Ia sering dijuluki Lukas si dokter, yang berarti ia digambarkan sebagai seorang terdidik dari dunia Greko-Romawi. . . . .

Nah, karena itu, kepentingan-kepentingan injil Lukas adalah sedikit berbeda; mereka adalah kepentingan-kepentingan polisit smaupun sosial sebagaimana kita lihat dalam cara kisah itu diceritakan, justru karena penulisannya adalah untuk audiens yang jauh lebih terdidik ini.

Audiens Lukas rupanya adalah orang-orang yang predominan non-Yahudi. . . . ketika mereka bicara tentang kisah Yesus, ada penekanan lebih besar pada situasi politis dibandingkan dengan Yesus masa kini. Yesus tidak ditonjolkan sebagai provokator, begitu pula Paulus, dalam hal itu, dalam cerita-cerita itu. Dan hal itu mengisyaratkan sesuatu tentang situasi audiens, bahwa mereka juga memikirkan bagaimana mereka akan dipersepsikan, bagaimana gereja akan dipersepsikan oleh para pejabat pemerintah Romawi. Kadang-kadang diisyaratkan bahwa injil Lukas harus dipandang sebagai semacam apologetik bagi awal-mula gerakan Kristen, yang berusaha memperoleh tempat di dunia Romawi, yang berusaha mengatakan, “kami okay, jangan khawatir tentang kami, kami nggak beda dengan kalian semua: kami cinta damai, kami warga negara yang patuh, kami memiliki nilai-nilai moral tinggi, kami juga warga negara Romawi yang baik. . . .”

LUKAS/KISAH—SEJARAH KRISTEN PERTAMA

Juga penting untuk mengenali bahwa injil Lukas memiliki pendamping. Injil Lukas ditulis oleh penulis Kisah Para Rasul dalam Perjanjian Baru, buku yang menceritakan kisah awal-mula gerakan Kristen sampai ke masa karir Paulus.  Dan sangat jelas dari cara kedua buku itu dibuka, dan dari prolog masing-masing buku, bahwa kita tengah menghadapi penulis yang sama, dan bahwa naratifnya berlanjut dari teks yang satu ke teks lainnya. Jadi penulis Lukas/Kisah, dan itu istilah yang kita pakai sekarang, bahwa itu adalah karya dua-volume, penulis Lukas/Kisah tengah menceritakan pada kita sebuah kisah yang lebih besar, sebuah kisah yang lebih agung, sebuah kisah yang berawal dengan Yesus dan yang merenungkan bagaimana kehidupannya dijalani, tetapi kemudian memandang kisah itu sebagai berlanjut dengan pendirian gereja dan dengan penyebarannya dan dengan puncak perjalanan-perjalanan Paulus yang akhirnya membawanya ke Roma itu sendiri. Itu adalah sebuah kisah dengan kesadaran-diri politis jauh lebih besar. Itu adalah sebuah kisah yang diceritakan dari puncak sejarah. Sungguh, Lukas/Kisah adalah usaha pertama untuk menulis sebuah sejarah gerakan Kristen dari dalam.

YESUS DALAM LUKAS—GURU, MARTIR

Yesus dalam injil Lukas tampil dengan cara lain; ia lebih mirip seorang guru filsafat, katakanlah mirip seorang Socrates: ia menalar, ia tidak emosional, kadang-kadang ia menjadi kritikus masyarakat, tetapi yang jelas ia senantiasa memikirkan bagaimana ajaran-ajarannya berpengaruh pada masyarakat. Dan akhirnya ia mati persis seperti Socrates. Kematian Yesus dalam injil Lukas adalah lebih mirip kematian seorang martir; itu jauh lebih tenang; ia dengan tegar pergi ke kayu salib, tahu bahwa itu memang harus terjadi. Pilatus tidak bersalah sama sekali. Pilatus berusaha menyingkirkan kasusnya dengan jalan mengalihkan Yesus ke Herodes . . . . Pilatus bukan musuh Yesus, dia bukan orang jahat. Dan sekali lagi hal itu mencerminkan kesadaran politis injil Lukas. Yesus juga bukan sumber masalah karena sekarang ia bukan sosok pemberontak; lebih tepat lagi ia adalah sosok seorang guru, seorang filsuf, seorang kritikus sosial, seorang reformator sosial. Ia seorang warga negara yang baik dari dunia Greko-Romawi.

ANTAGONISME LUKAS TERHADAP YUDAISME

Nah . . . . pasangan dari kesadaran bahwa Lukas tengah menceritakan kisah itu bagi audiens Greko-Romawi dengan sesuatu agenda politis di kepalanya adalah apa yang terjadi pada penggarapan Lukas terhadap tradisi Yahudi. Lukas jauh lebih antagonistis terhadap Yudaisme. Dan dengan demikian injil Lukas dan kitab pasangannya, Kisah Para Rasul, juga mencerminkan perkembangan gerakan Kristen sebagai semakin menjauh dari akar-akar Yahudinya dan kenyataannya . . . . tengah berkembang semakin ke arah arena sosial dan politis Romawi. Kesadaran-diri politis ini dan kesadaran-diri ethis yang sedang dicerminkan oleh Lukas/Kisah ini mulai mengatakan bahwa kami, orang-orang Kristen, orang-orang yang menceritakan kisah ini, sudah tidak sama dengan Yahudi yang dulu itu. Dan karena itu ada antipati yang semakin membesar terhadap setidak-tidaknya elemen-elemen tertentu dalam tradisi Yahudi dan dalam masyarakat Yahudi.

ANAK  NAKAL LUKAS

Salah satu tempat di mana kita bisa melihat hal ini dengan jelas adalah cara Lukas menceritakan perumpamaan si anak nakal. Itu adalah cerita yang sangat akrab. Dan itu adalah cerita tentang pertobatan. Si adik dari dua anak lelaki bersaudara minggat, menghambur-hamburkan warisannya dengan hidup foya-foya, dan baru sesudah ia terjebak dalam depresi karena ia tidak punya uang dan tidak tahu lagi di mana ia harus tinggal, maka ia memutuskan untuk pulang ke rumah dan cukup menjadi seorang budak dalam rumah tangga bapaknya. Tetapi ketika ia pulang, ayahnya menyambut dia dengan kedua tangan terbuka dan mengatakan, “Mari kita bikin pesta besar untuk menyambut kepulangnmu.” Nah, si abang, yang selama itu tinggal di rumah, menjadi iri karena selama itu ia setia pada kemauan-kemauan dan perintah-perintah ayahnya. Selama itu ia menjalankan semua perintah ayahnya. Si adik lah yang menghambur-hamburkan segala sesuatu dan menentang kemauan ayahnya. Cerita itu sebenarnya adalah tentang persepsi Lukas mengenai hubungan antara orang-orang Yahudi dengan non-Yahudi dalam rumah tangga Allah. Itu adalah deskripsi Lukas mengenai gereja yang bersedia menerima baik si abang, si anak setia, Yahudi-Yahudi itu, maupun si adik nakal, orang-orang non-Yahudi, yang selama itu hidup jauh  dari si ayah tetapi yang sekarang, di gereja, disambut dengan baik dengan kedua tangan terbuka. Visi Lukas adalah tentang kemanusiaan yang dipersatukan di gereja, yang mempersatukan semua anak-anak Allah bersama-sama.

Lebih lanjut tentang Injil Lukas, baca esei karya Marilyn Mellowes.

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/shows/religion/first/kingdoms.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 23 Oktober 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: