Injil itu Apa?

22/01/2010

Bukan biografi, bukan kisah sejarah obyektif—Injil mirip iklan keagamaan.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program, University of Texas at Austin

INJIL ITU BUKAN BIOGRAFI

Injil bukanlah biografi sebagaimana arti istilah itu di jaman modern. Lebih tepat lagi, injil adalah kisah-kisah yang diceritakan dengan cara tertentu untuk menggugah imaji tertentu mengenai Yesus bagi audiens tertentu. Mereka berusaha menyampaikan sesuatu pesan mengenai Yesus, mengenai arti pentingnya bagi audiens, dan dengan demikian kita harus menganggap injil-injil itu sebagai khotbah, selain dongeng. Itulah injil —Kabar Gembira.

Keempat injil yang kita temukan dalam Perjanjian Baru, tentu saja, adalah Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Ketiga yang pertama biasanya disebut “injil-injil sinoptik,” karena mereka memandang berbagai hal dengan cara yang sama, atau mereka mirip dalam cara berceritanya. Dari ketiga injil ini, Markus adalah yang paling tua, kemungkinan besar ditulis antara tahun 70 dan 75. Mateus adalah yang berikutnya—ditulis antara tahun 75 sampai 85—mungkin malah lebih belakangan lagi. Lukas lebih belakangan lagi, ditulis antara tahun 80 sampai 90 atau 95. Dan Yohanes adalah yang paling belakangan, biasanya diperkirakan berasal dari tahun sekitar 95, sekalipun kitab itu diselesaikan sedikit lebih belakangan.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

“IKLAN KEAGAMAAN ”

Injil merupakan karya sastra dari tipe yang sangat khusus. Mereka bukan biografi. Maksud saya, ada segala macam detil mengenai Yesus yang mereka tidak tertarik untuk memberikannya pada kita. Mereka semacam iklan keagamaan. Yang mereka lakukan adalah memproklamasikan interpretasi pengarang individual mereka masing-masing mengenai pesan Kristiani melalui piranti yang menggunakan Yesus dari Nazareth sebagai juru bicara bagi wawasan si penginjil. Si penginjil bukanlah pengarang fiksi. Si penginjil mempunyai tradisi-tradisi yang mencakup bahasa Yunani sampai ke bahasa ujaran Yesus sendiri, yang kemungkinan besar adalah bahasa Aramaik. Dengan kata lain, saya kira ada sesuatu kesinambungan antara apa yang dikatakan oleh Yesus pada orang-orang Yahudi lain pada tahun 27 sampai 30 dengan apa yang para Penginjil itu katakan dalam bahasa Yunani pada komunitas-komunitas mereka sendiri, yang Yesus katakan. Tetapi, sebagai sejarawan, kita harus menyaring, harus menelusuri dan berusaha menyusun kembali apa yang berkorespondensi dengan masa penulisan dalam bahasa Yunani itu dengan apa yang berkorespondensi dengan masa hidup Yesus historis.

IMAJI-IMAJI YESUS DALAM INJIL

Apakah injil-injil itu menampilkan imaji yang sama mengenai Yesus?

Tradisi injil dipilah menjadi dua alur. Ada alur Markus dan ada alur Yohanes. Markus adalah yang ditulis paling tua, tak lama setelah perang yang menghancurkan Bait Allah, perang antara Roma dengan Yudea. Dan Markus menghadirkan satu tipe Yesus dengan sebuah naratif khusus di mana Yesus mulai di Galilei dan ia mengakhiri hidupnya di Yerusalem. Yohanes, sebuah injil yang tanggalnya tidak bisa kita tentukan dengan pas betul, menampilkan Yesus dapada saat pelayanan Yerusalem. Ia nyaris tidak pernah berada di Galilei sama sekali. Dan ia benar-benar bicara dan mengajar dan melakukan ini itu di Yerusalem. Ini cerita yang benar-benar berbeda dan kepribadian yang benar-benar berbeda. Mateus dan Lukas tergantung pada Markus. Itu sebabnya ketiga injil itu, Mateus, Markus, dan Lukas, disebut injil sinoptik. Karena mereka bisa dipahami bersama-sama. Mateus dan Lukas membangun kisah mereka di seputar plot yang disediakan oleh Markus.

Allen D. Callahan:

Associate Professor of New Testament, Harvard Divinity School

INJIL BUKANLAH LAPORAN SAKSI MATA

Jika anda menganggap injil sebagai laporan faktual mengenai kehidupan Yesus, laporan-laporan itu tidak nyambung. . . .

Well, ada apa yang bisa kita identifikasikan sebagai kontradiksi-kontradiksi dalam cerita itu. Beberapa dari itu berkaitan dengan metodologi kita. Jika kita ingin membaca injil-injil itu sebagai laporan-laporan saksi mata, rekaman-rekaman historis, dan sebagainya, maka kita bukan hanya akan mengalami kesulitan besar. Saya rasa ada bukti dalam materinya sendiri yang menunjukkan bahwa injil tidak dimaksudkan untuk dibaca seperti itu. Maksud saya, ada kepedulian-kepedulian tertentu yang tengah ditanggapi dalam literatur ini. Dan kita akan secara teologis dan historis pekak jika kita tidak mempertimbangkan kepedulian-kepedulian itu secara benar. Sekarang sudah menjadi konsensus di antara para peneliti Perjanjian Baru sampai sejauh tertentu . . . . bahwa dalam injil-injil itu kita berhadapan dengan para teolog, orang-orang yang merenungkan Yesus secara teologis. Dan ada banyak indikasi bahwa apa yang kita sebut sebagai permenungan teologis itu betul-betul sudah ada sejak awal mula . . . .

Apakah anda bermaksud mengatakan bahwa injil-injil itu tidak banyak berguna sebagai kisah-kisah saksi mata kehidupan Yesus?

Well, mereka tidak menyatakan diri sebagai kisah-kisah saksi mata kehidupan Yesus. Saya tidak beranggapan orang-orang yang bertanggung-jawab atas dokumen-dokumen itu melek sampai larut malam karena memikirkan hal-hal seperti itu. Mereka tengah menyusun argumen-argumen tertentu dan mereka mempunyai kepedulian-kepedulian . . . . dan mereka mengartikulasikan argumen-argumen itu dan mereka mengetengahkan kepedulian-kepedulian itu berdasarkan apa yang mereka ketahui dan apa yang orang-orang lain ketahui mengenai apa yang Yesus katakan dan perbuat.

RINTANGAN-RINTANGAN HISTORIS

Saya kira cerita historis menyodorkan kontrol-kontrol tertentu pada proyek rekonstruksi kita. Kita tidak bisa membuat Yesus menjadi apa saja yang kita maui karena kita menghadapi rintangan-rintangan historis tertentu. Nah, saya juga beranggapan bahwa kita bukan orang-orang pertama yang menghadapi masalah-masalah ini. Saya rasa masalah ini sudah sangat tua. Saya rasa anda mulai dengan penulis-penulis injilnya  sendiri. Dengan kata lain, sekalipun kita peduli pada literatur injil itu sebagai sarat dengan segala macam kecenderungan dan bias-bias dan pembesaran-pembesaran, dan sekalipun kita ingin mengenali hal-hal itu, orang-orang yang bertanggung-jawab atas literatur itu tidak mungkin begitu saja duduk dan menuliskan apapun yang mereka maui tentang Yesus . . . . Misalnya, mereka menulis untuk sebuah audiens, atau audiens-audiens, yang sudah tahu tentang Yesus sampai sejauh tertentu; ada pasar di luar sana untuk literatur seperti itu, dan untuk menyambut pasar itu, mereka benar-benar harus menulis tentang seseorang yang memang sudah diketahui oleh orang-orang. Mereka ingin bercerita lebih banyak mengenai seorang tokoh yang orang-orang sudah kenal. Dan mereka tidak bisa mengatakan sembarang hal yang sudah basi.

Dan lebih jauh lagi . . . . dan para sarjana lain yang lebih pintar dan lebih bijaksana daripada saya sudah mulai mengungkap hal ini. . . . ada poin-poin dalam teks itu yang mengindikasikan bahwa para penulis injil itu sendiri tengah berurusan dengan tradisi-tradisi tertentu yang bagi mereka mungkin terasa ambivalen, tetapi toh mereka harus berbuat sesuatu dengan hal-hal itu. Sebagai contoh klasik, Lukas menceritakan pada kita tentang pembaptisan Yesus oleh Yohanes Pembaptis. Nah, jika kita membaca di tempat lain dalam Injil Lukas . . . . Kisah Para Rasul . . . . kita lihat bahwa Lukas tahu tentang sekte Yohanes Pembaptis. Ia tahu bahwa mereka mendahului gerakan Yesus, dan ia juga tahu bahwa ada sementara orang dalam sekte Baptis itu yang menandaskan agar mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Pembaptis, bahkan setelah Yesus tampil ke depan, bahkan setelah Yohanes mati. Dan Lukas tidak menyukai hal itu . . . . Mereka diharapkan bergabung dengan franchise baru itu, tetapi mereka tidak mau. . . . . Ia ingin menunjukkan bahwa sekalipun Yohanes itu orang besar, ia tidak lebih besar daripada Yesus. Tetapi ia tahu bahwa Yohanes membaptis Yesus dan bahwa Yohanes Pembaptis mengajarkan baptis pertobatan dosa. Jadi, apa yang ia lakukan? . . . . Dalam bab ketiga injilnya, ia menghadirkan Yesus sebagai mendatangi Yohanes Pembaptis dan kemudian mengatakan “belakangan Yohanes dimasukkan ke penjara.” . . . . Jadi, kita mendapatkan pengumuman bahwa Yohanes dijebloskan ke penjara, dan langsung sesudah pengumuman itu, Yesus dibaptis, dalam struktur kalimat pasif, kata kerja predikatnya pasif, tanpa menyebutkan siapa yang membaptis dia. Nah, kita semua tahu siapa yang membaptis Yesus, dan tebakan saya Lukas tahu siapa yang membaptis Yesus tapi ia tidak ingin serta merta tampil ke depan dan mengatakan “Yohanes membaptis dia” karena ia tidak menyukai implikasinya, dari sudut pandang hubungan antara Yohanes dengan Yesus . . . .

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament, Yale Divinity School

ORANG-ORANG KRISTEN PURBA MENGINTERPRETASIKAN INJIL SECARA ALEGORIS

Pada masa injil-injil itu ditulis, bagaimana orang-orang membaca dokumen-dokumen itu? Apakah mereka membacanya seperti kita membaca koran atau buku sejarah, setidak-tidaknya dengan harapan detil-detilnya faktual, ataukah mereka membacanya pada tingkatan yang berbeda?

Sebagian besar orang dalam gerakan Kristen purba itu tidak bisa membaca, jadi mereka tidak akan membaca injil-injil itu. . . . . Barangkali kontak terbesar yang bisa mereka peroleh adalah dengan mendengarkan injil-injil itu dibacakan atau dikhotbahkan dalam pelayanan-pelayanan gereja. Yang jelas, apa yang sekarang ini kita katakan interpretasi literal terhadap kitab suci bisa dipastikan tidak terjadi di jaman dahulu, dalam arti kata yang sama persis. Saya kira penting sekali untuk dipahami bahwa apa yang oleh orang-orang Amerika kontemporer, misalnya, dianggap sebagai interpretasi literal terhadap kitab suci sebenarnya adalah produk dari masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, sebagai perkembangan atau bagian dari reaksi fundamentalisme terhadap Biblical Scholarship atau Biblical Criticism yang berkembang di abad ke-19.

Orang-orang Kristen purba jelas membaca kitab suci secara alegoris, dengan memahaminya untuk mengacu pada—katakanlah— realita-realita lebih tinggi yang adanya bukan dalam teks itu sendiri. Mereka bisa menginterpretasikannya secara moral, misalnya memberikan nasehat untuk hidup. Seringkali dalam abad ke-2 atau ke-3, anda dapatkan banyak interpretasi yang kita sebut “tipologis,” dan yang dimaksudkan dengan itu adalah bahwa kejadian-kejadian serta detil-detil yang ditemukan dalam Kitab Yahudi dipandang sebagai tipe-tipe yang mengarah pada kedatangan Yesus. Jadi, misalnya, kambing hitam Kitab Levitikus yang menghapuskan dosa-dosa bangsa Israel adalah sebuah tipe yang mengarah pada Yesus yang menanggung dosa-dosa dunia, menurut ajaran Kristen . . . .

Karena orang-orang Kristen ingin tetap memelihara Kitab Yahudi sebagai kitab mereka . . . . adalah penting bagi mereka untuk memastikan isyarat-isyarat interpretif untuk mengendalikan makna teks Kitab Yahudi. Karena yang jelas kebanyakan orang Kristen purba, setidak-tidaknya menjelang abad ke-2, tidak mengikuti detil-detil hukum Yahudi, maka banyak koreksi yang harus dilakukan, katakanlah, dalam hal bagaimana mengatakan mengapa kitab itu milik mereka dan [mengapa] mereka mempunyai hak untuk menginterpretasikannya, tetapi, di pihak lain, mengapa mereka tidak mengikuti hukum Yahudi, sebagaimana dirinci dalam Kitab Yahudi. Itu masalah interpretatif lumayan besar bagi orang-orang Kristen purba . . . .

Kebanyakan orang Kristen purba akan beranggapan bahwa cerita-cerita dalam injil itu benar-benar terjadi. Mereka menghadapi berbagai masalah sebab ada banyak kesenjangan di antara cerita-cerita injil itu yang mereka sendiri bisa kenali, tetapi mereka barangkali kesulitan untuk merangkaikan mereka bersama-sama dengan cara yang menurut kita literal. Pada dasarnya, orang-orang Kristen purba ingin menggunakan cerita-cerita itu untuk pengajaran moral. Untuk sebuah pesan umum tentang keselamatan. Yesus hidup. Yesus meninggal. Yesus menyelamatkan kita dari dosa-dosa kita. Dunia akan mengalami kiamat pada hari pengadilan. Beberapa ungkapan dasar seperti itu . . . .

John Dominic Crossan:

Professor Emeritus of Religious Studies, DePaul University

EVOLUSI KEEMPAT INJIL

Apakah tradisi lisan memainkan peranan penting dalam pelestarian tradisi-tradisi gerakan purba itu?

Tradisi lisan adalah sesuatu hal yang sudah sering disalah-gunakan, saya kira, dalam pengkajian. Jika anda mengambil, misalnya, materi umum di belakang Injil Q dan Injil Thomas, ada 37 perkataan tanpa urut-urutan jelas sehingga itu bukan dokumen dengan tipe jelas. Siapa yang melestarikannya? Orang-orang yang hidup seperti Yesus, para pengembara yang berusaha mengikuti kehidupan Yesus. Mereka tertarik pada cerita-cerita itu, bukan hanya karena tradisi lisan, melainkan karena hal itu memberikan pembenaran pada gaya hidup mereka. Jadi setiap kali ada orang yang menyebut-nyebut tradisi lisan, saya ingin mengatakan, “Dapatkah anda menunjukkannya pada saya? Saya tahu anda tidak dapat menunjukkan saya tradisi lisan, tapi dapatkah anda menunjukkan pada saya sesuatu dalam teks itu, atau setidak-tidaknya dalam gaya hidup seseorang yang peduli pada hal itu?” Kalau tidak, kita mempunyai tradisi lisan yang mengambang begitu bebas sehingga malah tanpa arti sama sekali.

Well, jika demikian, pada hemat anda, lalu bagaimana tradisi-tradisi Yesus dilestarikan?

Saya kira tradisi-tradisi Yesus dilestarikan oleh mereka yang berusaha menghayatinya. Misalnya, orang-orang yang melestarikan “Terberkatilah orang-orang yang miskin.” Mereka melestarikannya karena mereka miskin dan mereka menganggap dirinya terberkati. Mereka mempunyai vested interest untuk mengingat-ingat perkataan itu karena perkataan itu memberikan deskripsi pada mereka.

Kalau begitu, bagaimana keempat injil itu berevolusi?

Injil yang pertama, Markus, adalah sekitar tahun 70. Jadi dalam kurun waktu antara 70 sampai, mungkin, 95, kita mendapatkan keempat injil itu. 25 tahun. Tapi 70 dikurangi 30. 40 tahun sebelum itu. Jika anda memperhatikan kreativitas dalam rentang 25 tahun itu, dari Markus disalin kedalam Mateus dan Lukas, kemungkinan juga oleh Yohanes, maka anda harus menghadapi kreativitas dari masa sepanjang 40 tahun itu, bahkan ketika anda belum memiliki injil tertulis. Dan itu mungkin sama-sama intensnya.

Dan anda membuatnya kedengaran sedemikian rupa sehingga seakan-akan injil-injil itu sangat tidak bisa diandalkan sebagai bukti.

Injil-injil itu, pertama-tama, adalah dokumen-dokumen historis yang sangat tidak bisa diandalkan untuk masa dan tempat mereka sendiri. Markus menceritakan sangat banyak hal kepada kita mengenai sebuah komunitas yang menulis pada tahun 70an. Yohanes, sebuah komunitas yang menulis pada pertengahan 90an. Tetapi karena kita memiliki keempat injil itu, maka kita memiliki empat vektor, dengan jalan menelusuri dengan sangat cermat . . . . apa yang oleh para ahli disebut elemen-elemen “redaksional” di situ. Andaikata Markus menulisnya sama seperti yang sudah ada, dan Mateus melakukan hal yang sama, kita tidak bisa berbuat apa-apa secara historis pada mereka.

PERBEDAAN DI ANTARA INJIL-INJIL

Apa kesamaan injil-injil itu? Mungkinkah mengenali kesamaan mereka?

Yang sama-sama ada dalam injil-injil itu tentu saja Yesus. Tetapi mengatakan begitu akan kedengaran terlalu sepele. Sebab mereka tidak berkepentingan untuk mengulang-ulang Yesus. Mereka berkepentingan untuk menginterpretasikan Yesus. Mateus, bahkan ketika ia memiliki Markus di depannya, akan mengubah apa yang Yesus katakan. Dan itulah yang paling penting bagi saya, untuk memahami pikiran si penginjil. Ibaratnya Mateus mengatakan, “Aku akan mengubah Markus agar Yesusnya Markus bicara pada orang-orangku.” Nah, ada logika pada perubahan dia. Ia bukan sekedar mengubahnya agar menjadi sulit. Ia akan mengubah Markus, tetapi apa yang Yesus katakan dalam Markus tidak nalar bagi orang-orang Mateus. . . . Apa yang konsisten mengenai injil-injil itu adalah bahwa mereka mengubah dengan cara yang konsisten dengan teologi mereka, dengan kebutuhan-kebutuhan komunitas mereka masing-masing. Mereka tidak mengubah secara acak. Jika anda mulai memahami bagaimana Mateus mengubah Markus, anda akan melihat hal itu dilakukan lagi dan lagi dan lagi dan lagi. Anda tidak perlu merekayasa alasan yang berbeda untuk setiap perubahan. Sekali anda memahami teologi Mateus, anda pasti akan bisa meramalkan bagaimana ia akan mengubah.

Seberapa penting perbedaan-perbedaan di antara injil-injil itu dan seberapa jauh mereka bisa mengacau iman?

Untuk orang yang menganggap keempat injil itu mirip empat orang saksi di pengadilan yang hendak menceritakan persisnya bagaimana sebuah kecelakaan terjadi, ibaratnya begitu, ini akan benar-benar merisaukan. Tapi bagi saya ini sama sekali tidak merisaukan, sebab keempat injil itu memberitahu saya, dengan jujur, bahwa mereka injil. Dan injil adalah kabar gembira . . . . “kabar” dan “gembira” . . . . interpretasi yang diupdate. Jadi ketika saya memasuki Mateus, saya tidak mengharapkan jurnalisme. Saya mengharapkan injil. Itulah yang saya temukan. Itu bukan masalah bagi saya.

Jadi, dengan kata lain, mereka melakukan apa yang mereka memang ingin lakukan, tetapi itu bukan apa yang kita kira mereka ingin lakukan?

Kita yang bermasalah, bukan Mateus, Markus, Lukas, dan Yohanes. Mereka sudah melakukan tugas mereka dengan sangat istimewa, kalau tidak Kristianitas sudah mati dari dulu. Kitalah yang  menginginkan mereka agar menjadi jurnalis, dan kita sangat tidak happy dengan mereka.

Dapatkah anda menjelaskan bagaimana Markus menggambarkan Yesus, dan audiens macam apa yang sedang ia hadapi?

Ijinkan saya membandingkan Markus dengan Yohanes untuk menjelaskan bagaimana dua injil melakukan tugasnya secara berbeda, dalam sebuah episode yang kita sebut “sengsara di taman.” Nah, tidak ada sengsara dalam Yohanes dan tidak ada taman dalam Markus, tetapi kita menyebutnya “sengsara di taman” karena kita menyatukan kedua hal itu. Markus menceritakan kisah di mana Yesus, malam sebelum ia meninggal, rebah ke tanah, mengemis-ngemis pada Tuhan, “Andaikata ini semua bisa berlalu, tetapi aku akan melakukan apa yang Kau kehendaki.” Dan semua rasul melarikan diri. Nah, itu lukisan yang memilukan. Itu nalar bagi saya karena Markus tengah menulis pada sebuah komunitas yang tengah dianiaya, yang tahu bagaimana rasanya mati. Begitulah kamu mati, merasa ditinggalkan Tuhan.

Pindah ke Yohanes. Dalam Yohanes Yesus tidak rebah ke tanah. Seluruh pasukan Yerusalem keluar—600 tentara keluar untuk menangkap Yesus dan mereka semua rebah ke tanah—dalam Yohanes. Dan Yesus mengatakan, “Tentu saja aku akan melakukan apa yang Bapa kehendaki.” Dan Yesus mengatakan pada mereka, “Biarkan murid-muridku pergi.” Ia yang memegang kendali atas seluruh peristiwa itu. Anda mendapatkan seorang Yesus yang nyaris tidak terkendali dalam Markus, dan seorang Yesus yang memegang kendali penuh dalam Yohanes. Keduanya injil. Tidak satupun dari keduanya historis. Saya kira tidak satupun dari kedua injil itu tahu persis apa yang sebenarnya terjadi. Markus menulis untuk sebuah gereja yang sedang dikejar-kejar, “Beginilah caranya mati . . . . seperti Yesus.” Yohanes menulis, saya kira, untuk sebuah komunitas yang bertahan hidup mati-matian, yang tinggal berpegangan dengan jari-jari mereka. Itu kelompok yang semakin lama semakin tergusur. Yesusnya menjadi semakin pegang kendali, pegang kendali dalam episode sengsara, pegang kendali atas Pilatus. Jika komunitas Yohanes semakin out of control, Yesusnya juga semakin in control. Keduanya secara absolut nalar bagi saya. Keduanya injil.

Apa perbedaan penting antara Mateus dan Lukas dan Markus? Perbedaan-perbedaan apa yang mereka bawa masuk?

Jika anda menyimak Lukas 4, misalnya, adegan pembuka yang nyaris paradigmatik dalam Lukas. Yesus masuk ke sinagoga. Ia mengambil gulungan kitab Yesaya. Tentu saja ia bisa membaca. Dan ia seorang intelektual. Ia tidak kebingungan masuk menelusuri gulungan kitab tanpa penunjuk jalan dan menemukan tempat yang ia inginkan dengan jitu dan membacanya dan mengomentarinya. Yesus adalah seorang pakar. Yesus agak mirip Lukas, sebenarnya . . . . .

Lukas memberi kita sebuah latar depan yang besar. Mateus melakukan hal yang sama dengan Khotbah diatas Bukit. Itu di atas bukit, ke mana lagi? Musa di atas gunung. . . . Sinai. Yesus di atas gunung mengatakan, “Kamu telah mendengar apa yang dikatakan orang di masa lalu. . . . . tetapi aku katakan kepadamu. . . ..” Saya tidak bisa membayangkan Mateus mengawalinya dengan sesuatu yang lain. Yesus adalah seorang Musa baru. Semua itu koheren dalam teologi masing-masing penginjilnya. . . . .

Dalam Markus tidak ada Khotbah diatas Bukit dan tidak bukit untuk berkhotbah di atasnya, dan tidak ada adegan di sinagoga Nazareth di mana Yesus membaca Yesaya dan nyaris dibunuh. Tidak satupun dari itu ada dalam Markus. Yang satu ada dalam Mateus. Yang lain ada dalam Lukas.

Ketika kita membaca Yohanes, apa yang dikatakannya kepada kita mengenai arah yang tengah diambil oleh gereja yang lain?

Ketika saya membaca Yohanes, saya sampai pada dua kesimpulan. Yang satu adalah bahwa ini adalah sebuah kelompok Yahudi. Jika anda ingin menyebut mereka Kristen, mereka adalah Kristen Yahudi. Mereka merupakan satu kelompok dalam Yudaisme. Kesimpulan kedua adalah bahwa mereka semakin tergusur dan tergusur. Maksudnya, seruan mereka untuk memimpin semua Yudaisme menjadi semakin musykil dan musykil. Mereka menjadi semakin kecil dan kecil dan kecil. Dan mereka bisa menyebut orang-orang sesama Yahudi mereka sebagai “orang Yahudi.” Mereka merasa sangat terasing dalam Yudaisme mereka sendiri. Kasarnya saja, mereka jadi pecundang. Dan itu berarti bahasanya menjadi semakin kasar. Dalam kampanye politik si pecundanglah yang mencaci maki. Jadi, Mateus sedang terpuruk ketika ia menyebut orang-orang Farisi munafik dan menyatakan “perang lawan mereka.” Itu memperingatkan saya bahwa ia terpuruk menghadapi orang-orang Farisi sebagaimana ia memandangnya. Yohanes, ia bicara tentang “orang-orang Yahudi melakukan ini itu” atau pernyataan tak mengenakkan tentang orang-orang Yahudi keturunan Iblis. Itu memberitahu saya kelompok itu putus asa. Kelompok itu tinggal berpegangan dengan jari-jari mereka.

Harold W. Attridge:

KETEGANGAN KRISTEN-YAHUDI DALAM INJIL-INJIL

Dalam semua injil itu ada pernyataan-pernyataan yang mencerminkan semakin maraknya situasi polemik atau situasi kontroversi antara gerakan Kristen menjelang akhir abad pertama dengan komunitas-komunitas Yahudi masa itu. Dalam Mateus, misalnya, ada “Celakalah kau orang-orang Farisi,” sementara pada saat yang sama kita mendapatkan pernyataan-pernyataan tentang Yesus yang akan datang untuk menggenapi hukum Yahudi. Jadi rupanya ada suatu perdebatan antara Mateus dengan beberapa Yahudi pengamat atau orang-orang Kristen Yahudi mengenai hukum Yahudi.

Dalam Lukas dan dalam Yohanes, polemik macam itu menjadi semakin intensif dalam berbagai hal. Khususnya dalam Yohanes, kita mendapatkan pernyataan-pernyataan mengenai orang-orang Yahudi yang dilekatkan ke bibir Yesus yang menengarai mereka sebagai sebuah kelompok yang asing bagi Yesus dan pengikut-pengikutnya, yang sangat mustahil jika dipandang dari realita historis, dan mempersetankan mereka. Jadi, misalnya, dalam Yohanes 8, kita mendapatkan pernyataan-pernyataan bahwa orang-orang Yahudi adalah anak-anak Setan, dan Setan adalah pembunuh sepanjang masa. Pernyataan-pernyataan seperti itu mengisyaratkan bahwa ada hubungan polemik yang intens antara orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada titik itu. Basis untuk hubungan itu rupanya adalah pemisahan antara komunitas Yohanes dari kelompok orang-orang Yahudi dari mana mereka berasal.

Apakah ini juga akar dari anti-Semitisme orang Kristen?

Polemik seperti itu dan aneka macam hal yang dikatakan orang-orang Kristen mengenai orang-orang Yahudi dalam injil-injil itu jelas . . . . berperan dalam anti-Semitisme orang Kristen, dan ini jelas merupakan sesuatu yang perlu ditanggapi oleh gereja-gereja Kristen ketika mereka menjabarkan tradisi injil.

John Dominic Crossan:

PERANAN ORANG-ORANG YAHUDI DALAM CERITA INJIL TENTANG KEMATIAN YESUS

Sampai sejauh mana orang-orang Yahudi terlibat dalam pembunuhan Yesus?

Mengenai eksekusi Yesus, kita tahu dari sejarawan Romawi Tacitus, dan sejarawan Yahudi Josephus, bahwa telah muncul sebuah gerakan, bahwa pendirinya dieksekusi, dan bahwa gerakan itu berjalan terus . . . . tiga hal yang sangat penting. Jadi, fakta-fakta keras dan kasarnya, katakanlah begitu, adalah sama jelasnya dengan hal-hal historis. Tetapi ketika kita menoleh pada detil-detilnya, pada kisah-kisah momen demi momen, kata demi kata, yang anda temukan dalam Markus, Mateus, Lukas, dan Yohanes, itu masalah yang lain lagi, sebab yang menarik di sana adalah bahwa rasanya itu merupakan satu alur tradisi yang tunggal, bukan empat kesaksian yang berdiri sendiri-sendiri. Markus disalin kedalam Mateus dan Lukas dan mungkin sekali disalin kedalam Yohanes, jadi hanya ada satu sumber untuk semua ini. Apa yang anda temukan sepanjang satu sumber itu, adalah bahwa kelompok itu . . . . orang-orang Yahudi Kristen, yang sedang kita bicarakan . . . . sekelompok orang-orang Yahudi yang sangat mirip dengan orang-orang Yahudi Essenes atau Yahudi Farisi atau Yahudi Saduki, atau Yahudi Zealot . . . . ketika orang-orang Yahudi Kristen menjadi semakin tergusur dan tergusur dari mayoritas . . . . orang-orang mereka sendiri, musuh-musuh Yesus dalam cerita itu begitu juga menjadi semakin meningkat. Jadi Markus berbicara tentang massa menentang Yesus, tetapi ketika sampai pada Mateus, 15 tahun kemudian, katakanlah pada tahun 85, yang menentang jadi semua orang. Dan sampai ke Yohanes, anda sampai ke Yohanes pada tahun 90an, orang-orang Yahudi lah yang menentang Yesus dalam kisah sengsara itu.

Masalahnya bagi kita adalah bagaimana menerima istilah “injil” itu dengan serius. Itu berarti “kabar gembira.” “Gembira” itu dari sudut pandang seseorang, bukan dari sudut pandang Romawi, misalnya. “Kabar” berarti “baru,” di-update, jadi cerita itu harus di-update. Setiap penulis injil, ketika mereka menulis tentang sengsara Yesus, ibaratnya menanyai diri mereka sendiri, “Siapa musuhku sekarang ini, hari ini? Mereka adalah musuh Yesus dulu pada tahun 20an.” Itu menjadi sangat berbahaya ketika anda menyimak injil-injil Kristen itu . . . ., bahkan Yohanes berbicara tentang orang-orang Yahudi, maksudnya semua orang Yahudi yang lain, kecuali kita Yahudi-Yahudi yang “baik” ini. Dan dia mengakui, dengan sesuatu cara, bahwa mayoritas menentangnya dengan keras. Ketika itu dibaca di abad keempat oleh orang-orang   non-Yahudi yang didukung oleh Kekaisaran Romawi di belakang mereka, itu menjadi tempat persemaian berbahaya yang akhirnya akan melahirkan genocide dan anti-Semitisme, yang akhirnya sampai ke jaman kita sekarang ini. Karena bagaimanapun juga, sekarang kita membaca bahwa dulu orang-orang Yahudi melakukan ini-itu. Dan itu berarti orang-orang yang ada di sana, yang bukan kita.

Baca lebih lanjut esei Marilyn Mellowes tentang injil.

Alih bahasa: Bern Hidayat, 20 September 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: