Injil dan Potret-potret Yesus

22/01/2010

Usaha-usaha yang menggugah perhatian terbesar dalam dekade terakhir ini antara lain adalah the Jesus Seminar, yang menyatakan mewakili jajaran para ahli Perjanjian Baru, tetapi kenyataannya tidak.

Oleh Darrell L. Bock
Research Professor of New Testament Studies
Dallas Theological Seminary
July 2003

Ada banyak diskusi sekarang ini mengenai Yesus historis. Juga ada banyak perdebatan mengenai seperti apa Yesus historis itu. ini adlaah diskusi yang penting, dan saya duduk dalam jajaran editor sebuah jurnal baru yang mengabdikan diri pada upaya membuat pengkajian Yesus historis menjadi sebuah titik diskusi penting dalam pengkajian-pengkajian Perjanjian Baru. Jurnal itu adalah the Journal for the Study of Historical Jesus, yang diterbitkan oleh Sheffield Academic Press. Jurnal itu diluncurkan tahun ini dan akan memiliki banyak pengkajian paling mutakhir mengenai Yesus dari berbagai sudut pandang teologis.

Usaha-usaha yang menggugah perhatiann terbesar dalam dekade terakhir ini antara lain adalah the Jesus Seminar, yang menyatakan diri mewakili jajaran para ahli Perjanjian Baru, tetapi kenyataannya tidak. Karena berbagai alasan, seminar itu gagal menerima pengakuan luas seperti yang ia klaim sendiri. pertama, seminar itu gagal merepresentasikan sebuah pengkajian yang membedah Perjanjian Baru secara berimbang, hal yang ditunjukkan dengan gamblang oleh Richard Hays dari Duke [University] dalam sebuah ulasan beberapa tahun yang lalu. Kedua, penggunaan sumber-sumbernya tercemar oleh penempatan Thomas secara terlalu dini dalam lini tradisi, dan dengan demikian memperlakukan apa yang oleh sebagian besar ahli diperkirakan sebagai dokumen awal abad kedua sebagai dokumen pertengahan abad pertama. Hal itu mendistoris hasil-hasil seminar itu ke arah preferensi terhadap materi ucapan-ucapan singkat. Ketiga, kriteria dominan yang digunakan untuk otentisitas adalah disimilaritas; hal ini memang menerangi di mana Yesus itu unik, tetapi juga mengasingkan dia dari konteks kultural yang jelas juga ia bawa dalam pengajarannya—padahal justru mengapresiasi karya Yesus itulah yang hendak ditunjukkan oleh butir persoalan ketiga itu kepada kita. Keempat, hasil yang dicapai seminar tadi—seorang Yesus yang “non-eskatologis,” seorang Yesus yang tidak mengajarkan kerajaan Allah atau pengadilan akhir—bertentangan dengan konsensus para ahli Perjanjian Baru dari semua sayap bahwa Yesus menekankan tema-tema ini. Kelima, kumpulan ucapan-ucapan yang oleh seminar itu dianggapp otentik tidak dapat secara cukup meyakinkan menjelaskan bagaimana Yesus disalib karena menyatakan diri messiah, atau bagaimana gereja purba mengajarkan tentang dia sesudah kematiannya. Yesus minimalis dan sosialis yang sekedar mengajarkan etika itu tidak dapat menjelaskan bagaimana Yesus berkembang menjadi obyek pemujaan di gereja dan bukan sekedar seorang guru-nabi besar. Ringkas kata, salah satu upaya yang banyak dipublikasikan untuk menjelaskan Yesus kepada orang banyak itu cacat dan hasil-hasilnya tidak secara memadai menjelaskan mengapa Yesus memiliki impak seperti yang sudah terjadi.

Adalah hal yang sering terjadi bahwa dalam menerjunkan diri kedalam sebuah pengkajian tentang Yesus historis serta memilih-milih dan memilah-milah apa saja yang bisa dikaitkan dengannya di masa lalu, sebagaimana yang dilakukan oleh seminar itu, kita melewatkan satu fakta penting. Yesus yang berimpak pada Kristianitas dan kebudayaan Barat bukanlah salah satu dari Yesus-Yesus hasil rekonstruksi historis yang diketengahkan selama beberapa abad terakhir ini, melainkan Yesus menurut Kitab Suci. Yesus yang memukau dunia selama lebih dari dua ribu tahun ini adalah Yesus yang kompleks tetapi memukau yang disajikan lewat keempat potret dari keempat penulis injil. Dengan mempertimbangkan fakta itu, saya menulis buku  Jesus according to Scripture (Baker Books) yang merupakan sebuah pengkajian yang cermat mengenai potret-potret injil tersebut.

Pengkajiannya menggarap injil-injil sinoptik bersama-sama, baru kemudian Yohanes, secara terpisah, yang dianalisa per bagian, dan dengan pembahasan cermat mengenai bagaimana bagian-bagian dan potret-potret itu terkait satu sama lain. Argumennya: bahwa injil-injil sinoptik menceritakan kisah Yesus “dari bumi naik ke langit,” yang berarti itu dimulai dari kategori-kategori yang biasa kita gunakan untuk mendeskripsikan orang-orang dan kemudian secara bertahap mengungkapkan lebih banyak tentang siapa Yesus itu sampai muncul pemahaman yang lebih lengkap mengenai siapa dia. Misalnya, dalam Markus, kita lihat murid-murid berusaha keras untuk memahami siapa Yesus itu dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan tentang identitasnya sampai di akhir paruh pertama barulah mereka mengerti bahwa dia adalah Messiah, tetapi paruh kedua injil itu menjelaskan bahwa Messiah itu harus menderita  dengan cara-cara yang belum pernah mereka bayangkan. Mateus membantu menjelaskan bagaimana Messiah yang menderita itu menjadi inti dari upaya memenuhi hukum Allah dalam usaha untuk hidup dengan benar, yang bukan sekedar menjalankan norma-norma hukum Allah.

Lukas memberi kita sebuah penekanan etika dalam pengajaran Yesus, dengan menunjukkan bagaimana Yesus memperingatkan akan keterikatan yang berlebihan pada kekayaan dan hal-hal duniawi seraya menyerukan murid-muridnya agar mengulurkan tangan pada orang-orang yang berada di pinggiran. Semua komitmen itu mencerminkan ajaran Yesus tentang kedatangan kerajaan Allah, pemerintahan Allah yang Yesus bawa bersamanya, dan tanggungjawab setiap orang padanya. Injil Yohanes lain. Injil Yohanes menceritakan kisah Yesus “dari langit turun ke bumi.” Yesus adalah orang yang datang dari Allah untuk menghuni bumi dan menunjukkan pada kita jalan menuju Allah, untuk memberi kita hidup berkualitas tanpa akhir dalam persatuan dengan Allah, yang dikenal sebagai hidup abadi, sebuah hidup berkualitas, bukan sekedar hidup durasi. Jadi kita mendapatkan gambaran tentang Yesus dalam sebuah perspektif quadraphonic [empat suara, empat sudut pandang] yang tidak bisa diberikan oleh satu alur cerita tunggal. Mengapresiasi nuansa-nuansa yang berlainan dari kisah-kisah yang beraneka macam itu tetapi tetap bisa melihat alur dasar yang menghubungkan semua kitab itu adalah tujuan utama buku saya itu. Jadi kisah sinoptiknya disimak dengan kunci-kunci menuju bagaimana masing-masing versi dari sesuatu kejadian dalam kisah Yesus saling tumpang tindih dan menghadirkan elemen-elemen yang unik dengan paralel-paralelnya.

Penyelidikan itu diakhiri dengan rangkuman seratus halaman mengenai hasil-hasil kumulatifnya. Di sinilah pengkajian itu menyodorkan diskusinya yang paling berharga. Dengan latar belakang Yudaisme abad pertama, kita mengamati ajaran-ajaran paling mendasar Yesus. Kita berkonsentrasi pada kejadian-kejadian dan tema-tema yang bermunculan sepanjang tradisi itu. Jadi kami mempelajari kerajaan Allah dan sifatnya yang “sudah ada di sini tetapi belum lengkap.” Kami tidak hanya mempertimbangkan apa yang Yesus katakan mengenai dirinya sendiri, tetapi juga apa yang ia lakukan yang menunjukkan siapa dia. Ini mengarah pada suatu pertimbangan mengenai apa yang Yesus lakukan dan apa arti tindakan-tindakan itu. siapa yang mempunyai otoritas untuk mengatakan kita harus bergaul dengan para pendosa atau mengampuni kesalahan orang lain? Otoritas macam apakah yang menyembuhkan atau mengusir setan atau yang menciptakan mukjijat seperti yang dilakukan oleh Yesus? Siapa yang mempunyai hak untuk mendefinisikan kapan melakukan praktek-praktek penyucian atau tidak atau mendiskusikan bagaimana hari Sabbath harus ditaati? Siapa yang bisa mengambil sebuah upacara besar dalam Yudaisme dan mengubah perlambangannya sebagaimana Yesus lakukan pada Perjamuan Terakhir? Siapa mempunyai hak untuk berjalan memasuki Bait Allah, tempat paling kudus dalam Yudaisme, dan mengajari orang-orang bagaimana harus berperilaku di sana. Siapa bisa mengklaim akan menderita bagi orang-orang lain?

Inti dari rangkuman itu adalah bahwa orang-orang lain telah melakukan hal-hal itu, tetapi belum pernah ada orang selain Yesus yang menyatukan seluruh aktivitas yang begitu luas itu dengan menggunakan kekuasaan Allah. Cakupan otoritas yang digunakan (atas Bait Allah, hukum Torah, kesucian, setan-setan, alam semesta, dosa, penghakiman) adalah petunjuk utama mengenai identitas Yesus sebagaimana dihadirkan oleh injil-injil. Semua tema itu bukan ha-hal minor dalam tradisi injil, melainkan intinya. Mereka mengungkapkan bahwa Yesus menurut Alkitab adalah pewahyu Allah yang otoritatif dan tunggal. Sosok itulah yang melahirkan gereja dan peribadahan pada Yesus. Kadang-kadang dalam melihat dan memperdebatkan Yesus historis, ada gunanya mengingat kembali bagaimana kisah tentang Yesus alkitab itu. beberapa orang tidak cukup akrab dengan kisah itu, dan itu adalah kisah yang memberikan impak terbesar pada gereja dan kebudayaan kita.

Judul asli: “Jesus according to Scripture: The Importance of the Gospel Portraits.”

Sumber: http://www.bibleinterp.com.

Terjemahan: Bern Hidayat, 3 Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: