Injil – Arti Penting Tradisi Lisan

22/01/2010

Sebelum injil-injil ditulis,  para pengikut pertama Yesus mengabadikan ingatan mereka dengan jalan berbagi cerita-cerita mengenai kehidupan, kematian, dan ajaran-ajarannya.

L. Michael White

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

STORY TELLING

Agak jelas dari cara kisah-kisah itu berkembang dalam injil-injil bahwa orang-orang Kristen yang menulis injil-injil itu satu generasi sesudah kematian Yesus melakukan hal itu dari sekumpulan ingatan lisan—maksudnya, kisah-kisah yang digetok-tularkan, barangkali oleh pengikut-pengikut Yesus. Tetapi jika kita berpikir tentang kematian Yesus dan membayangkan sekelompok orang yang masih lekat pada Yesus dan pada ingatan tentangnya, itu pasti masa yang sangat tidak mengenakkan dan traumatik. Banyak dari harapan-harapan dan penantian-penantian pertama mereka telah hancur lebur. Semua omongan tentang kerajaan Tuhan yang akan segera datang itu seakan telah dibantah dengan kematian Yesus.

Namun ternyata ada kisah tentang kebangkitannya kembali, tentang ia kembali hidup lagi. Dan di seputar ingatan itulah, di seputar kepedulian-kepedulian itulah, banyak dari cerita-cerita lisan paling awal tentang Yesus pasti telah diedarkan dan telah dibuat. Jadi kita harus membayangkan pengikut-pengikut Yesus itu berkumpul di seputar meja makan, mungkin, dan berbicara tentang ingatan-ingatan mereka—mungkin ingatan tentang sesuatu yang Yesus pernah secara aktual katakan di suatu waktu, atau mungkin sesuatu kenangan sekilas mengenai dia. Jelas mereka menganggapnya sebagai sebuah image yang sangat kuat. . .. . . . Tetapi hal yang senantiasa muncul di benak adalah bahwa mereka menceritakan kisah tentang siapa dia sebenarnya, setelah direnungkan dari pengalaman apa yang kemudian terjadi padanya, dari kematiannya, dari kisah tentang kebangkitannya kembali. . . . .

Bercerita adalah pusat dari awal-mula gerakan Yesus. Dan saya kira kita memang benar jika menyebutnya gerakan Yesus di sini, sebab jika kita memikirkannya sebagai Kristianitas— maksudnya dari perspektif agama institusional, padahal ini baru beberapa ratus tahun kemudian tercapai—maka kita akan kehilangan nuansa tahun-tahunnya yang paling awal, aroma asal-muasalnya yang masih kasar dan mentah, kelompok-kelompok kecil yang berjuang keras untuk menjaga ingatannya agar tetap hidup, dan lebih dari itu, yang berusaha keras untuk memahami apa makna Yesus bagi mereka. Itulah sebenarnya fungsi mendongeng tadi. . . . . itu adalah sebuah cara bagi mereka untuk mengartikulasikan pemahaman mereka mengenai Yesus. Dan dalam proses bercerita itu, ketika kita mengenalinya sebagai bagian yang hidup dari perkembangan tradisi, kita memperhatikan mereka mendefinisikan Yesus bagi diri mereka sendiri. Pada saat itu kita menangkap salah satu bagian yang otentik, atau mungkin salah satu bagian yang paling signifikan dari perkembangan Kristianitas.

TRADISI LISAN BEREVOLUSI MENJADI INJIL

Kita harus ingat bahwa Yesus wafat sekitar tahun 30. Selama 40 tahun, tidak ada injil tertulis satu pun mengenai kehidupannya, dan itu baru ada sesudah Pemberontakan Yahudi. Selama rentang waktu 40 tahun itu, sedikit sekali catatan-catatan tertulis dalam Kristianitas. Penulis pertama kita dalam Perjanjian Baru adalah Paulus, dan surat pertamanya ditulis pada sekitar tahun 50 sampai 52—itu sendiri 20 tahun, sesudah kematian Yesus. Tetapi rupanya antara waktu kematian Yesus dengan waktu penulisan injil pertama, Markus, orang-orang itu pada menceritakan kisah-kisah. Mereka mewariskan tradisi tentang apa yang terjadi pada Yesus, apa yang ia ajarkan dan apa yang ia lakukan—dan itu mereka lakukan secara lisan, dengan jalan mengulang-ulang cerita mereka. . . . ..

Fakta bahwa kita tengah berurusan dengan medium lisan dalam mendongeng tadi adalah sangat penting bagi perkembangan tradisi itu, karena kisah-kisah cenderung diceritakan dalam beberapa unit yang bisa diedarkan dengan mudah, bisa dengan mudah diingat-ingat. Kadang-kadang kisah-kisah itu disusun dengan urut-urutan yang berbeda, atau anda hanya bisa menceritakan bagian-bagian tertentu dari kisahnya. Ada indikasi-indikasi bahwa kita mungkin mempunyai kumpulan cerita-cerita mukjijat yang beredar secara independen, dan mungkin juga kumpulan ajaran-ajaran. Tetapi barangkali inti semua tradisi lisan itu adalah rangkuman tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan kembali Yesus, tradisi Sengsara itu.

Bagaimana itu mulai ditulis—kisah-kisah yang diceritakan oleh orang-orang itu pada satu sama lain?

Dalam perkembangan tradisi lisan itu, rupanya dalam perjalanan waktu beberapa dari cerita-cerita itu akhirnya ditulis, dan penggunaan pernyataan-pernyataan rangkuman mengenai kandungan kisah Yesus itu lah yang kemudian dianggap sebagai injil, kabar gembira, kisah tentang Yesus. Tetapi istilah “gospel” atau kabar gembira itu sendiri hanya berarti penyampaian informasi, tentang apa yang terjadi—Kisah Agung. Dan itulah intinya injil—sebuah tradisi naratif, kisah tentang Yesus.

KISAH KEBANGKITAN KEMBALI

Bagaimana kisah kebangkitan kembali itu diawali? Kita harus ingat bahwa injil-injil itu sendiri dan pemaparan penuh mereka tentang kehidupan dan kematian dan kebangkitan kembali Yesus datang cukup lama sesudah kejadiannya sendiri, satu generasi penuh, dalam beberapa kasus bahkan mungkin 60 tahun kemudian, dua generasi kemudian. Jadi cerita-cerita itu mempunyai waktu panjang untuk berevolusi dan berkembang. Tetapi kita bisa melihat bahwa mereka didasarkan pada beberapa unit lebih kecil dari tradisi lisan yang telah ebredar selama beberapa tahun sebelumnya. Kita lihat hal itu bahkan dalam surat-surat Paulus. Ingat, Paulus sendiri tidak menulis injil. Ia sebenarnya tidak bercerita banyak pada kita tentang kehidupan Yesus. Ia tidak pernah menyebutkan kisah mukjijat sama sekali. Ia tidak bercerita tentang kelahiran [Yesus].. Ia tidak bercerita tentang pengajaran-pengajaran dalam bentuk perumpamaan-perumpamaan atau feature lain manapun yang tipikal pada tradisi kabar gembira tentang Yesus.  Yang Paulus ceritakan pada kita adalah tentang kematian Yesus, dan itu ia lakukan dalam sebuah bentuk yang mengisyaratkan bahwa sebenarnya ia tengah menyitir sesuatu kumpulan materi yang sudah dikenal dengan baik. Jadi ketika ia bercerita pada kita, “aku menerima dan aku mengulurkan kepadamu,” ia sedang mengacu pada pengajarannya, tetapi ia juga mengatakan pada kita bahwa apa yang ia ajarkan, maksudnya materi yang ia sampaikan, sebenarnya dikembangkan melalui tradisi lisan itu sendiri.

Nah, salah satu contoh terpenting dari hal itu ada dalam surat  Korintus Pertama. Pada  dua kesempatan yang terpisah dalam Korintus Pertama, ia sebenarnya memberikan pada kita potongan-potongan dari materi lisan awal yang ia ulang-ulang sedemikian rupa, untuk mengingatkan audiensnya tentang apa yang pernah mereka dengar. Dengan kata lain, hal itu mengisyaratkan bahwa mereka akan mengenali materi itu. dan karena kita bisa mengisolasi materi itu dari surat-surat Paulus, dari cara dia memberikan deskripsi, maka kita bisa merekonstruksi. . . . seperti apa kumpulan materi awal tadi pada suatu masa sebelum materi itu sendiri menjadi tertulis. Nah, salah satu dari hal itu adalah 1 Korintus 11, di mana Paulus menggambarkan Yesus tengah melembagakan perjamuan terakhir. Dan itu adalah salah satu dari bagian materi lisan awal. Yang lain adalah 1 Korintus 15, di mana Paulus menggambarkan kisah tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan kembali. Dalam 1 Korintus 15, deskripsi Paulus mengenai kematian, penguburan,d an kebangkitan kembali Yesus adalah kisah paling tua yang kita peroleh dalam bentuk tertulis. Dan itu jelas merupakan apa yang Paulus sendiri telah dengar dan pelajari dalam tempo beberapa tahun. Jadi itu adalah salah satu dari potongan-potongan materi kecil dalam surat-surat Paulus yang mendorong kita semakin jauh ke arah jaman historis Yesus.

Nah, inilah yang Paulus katakan pada kita: Paulus mengatakan bahwa Yesus mati, dimakamkan, dan dibangkitkan kembali pada hari ketiga sesuai dengan alkitab, Paulus mengaitkannya dengan ramalan. Kemudian Paulus mengatakan, “Yesus menampakkan diri.” Paulus tidak bercerita pada kita tentang makam yang kosong. Tidak ada referensi ke bagian itu sama sekali. Sebagai gantinya, ia bercerita pada kita bahwa Yesus menampakkan diri, pertama pada Petrus dan kemudian pada keduabelas rasul, berikutnya pada 500 orang, beberapa di antaranya sudah mati pada waktu Paulus mendengar cerita itu.

Nah, dalam kedua kasus itu, adalah menarik bahwa kita mendapatkan informasi yang tidak kita dapatkan dari tempat lain manapun dalam tradisi injil. Jadi itu adalah satu unit materi lisan yang sangat penting bagi perkembangan tradisi itu. . . . . . .

Helmut Koester

John H. Morison Professor of New Testament Studies and Winn Professor of Ecclesiastical History Harvard Divinity School

TRADISI LISAN

Nah, apa yang terjadi ketika muncul sebuah tradisi lisan tentang sebuah kejadian historis atau seorang pribadi historis adalah, dan ini cukup aneh, bahwa tradisi lisan pertama bukanlah sebuah usaha untuk mengingat kembali secara persis apa yang dahulu terjadi, melainkan sebuah kepulangan ke simbol-simbol tradisi itu yang bisa menjelaskan sesuatu kejadian. Dengan demikian, orang harus membayangkan bahwa legenda dan mitos dan himne dan doa adalah wahana-wahana dalam mana tradisi-tradisi lisan berkembang. Gerakan memasuki sebuah tradisi lisan yang telah diformulasikan, yang tampak seolah-olah itu adalah sebuah deskripsi mengenai kejadian-kejadian historis aktual, sebenarnya adalah hasil akhir dari perkembangan seperti itu. Baru penulis yang belakangan akan membawakan sebuah laporan tentang sengsara Yesus yang mempunyai kemiripan dengan laporan kejadian-kejadian aktualnya, yang betul-betul terjadi,  satu demi satu. Orang bisa, misalnya, membayangkan bahwa cara paling tua dengan mana orang-orang Kristen purba bercerita tentang sengsara dan kematian Yesus adalah dengan himne yang Paulus kutip dalam Filipi 2, tentang orang yang dalam bentuk Tuhan telah merendahkan dirinya sendiri dan tunduk bahkan pada kematian di kayu salib dan yang karenanya lalu sangat dimuliakan oleh Tuhan. Itu adalah himne yang sudah sangat tua. Paulus mengutip himne itu ketika ia menyurati orang-orang Filipi, persisnya pada awal tahun 50an abad pertama. Ia mengutipnya sebagai sebuah himne yang mungkin dinyanyikan dalam komunitas-komunitas Kristen, sepuluh atau duapuluh tahun lebih awal. Begitulah anda pertama kalinya menceritakan kisahnya. Dan fakta bahwa anda menceritakan kisah itu dalam bentuk sebuah himne itu juga menunjukkan bahwa penceritaan kisahnya sendiri tertambat pada kehidupan ibadah komunitasnya. Jadi di sinilah sebenarnya awal dari tradisi lisan. Dan itu menjadi cerita ketika ia diceritakan kembali, dinyanyikan kembali. . . . . Itu bisa dinyanyikan kembali sebagai sebuah himne, tetapi diceritakan kembali sebagai sebuah naratif, sekali lagi dalam setting peribadahan komunitasnya. . . . .

Jadi tradisi lisan berkembang ketika komunitasnya mencari sesuatu bentuk penciptaan ulang terhadap ingatan dalam kehidupan komunitas. Hal yang sama terjadi pada kata-kata Yesus sebagaimana mereka diingat-ingat, karena kata-kata Yesus diingat-ingat bukan untuk merekam khotbah Yesus yang mentakjubkan, melainkan untuk menemukan, dalam kata-kata Yesus itu, kebijaksanaan untuk mengatur kehidupan komunitas baru itu. kutipan-kutipan atau kata-kata Yesus yang paling tua yang ada pada kita bukanlah dari injil-injil itu—mereka dari surat-surat Paulus. Dan masing-masing perkataan Yesus yang muncul dalam surat-surat Paulus adalah nasehat untuk mengatur kehidupan komunitas. Di situlah fungsi mereka. Dan apa yang tidak menjalankan fungsi itu tidak akan masuk kedalam tradisi lisan. . . .

Kita tidak bisa melangkah surut ke belakang dan menguliti dan membuang lapisan-lapisan yang ditambahkan belakangan, dan sampai pada kata-kata Yessu yang paling tua, lalu mengatakan ini dia yang dulu pasti dikatakan oleh Yesus—sebab bahkan lapisan yang paling tua dari tradisi kata-kata Yesus itu sudah diformulasikan, bukan untuk mengingat-ingat, melainkan untuk kepentingan kehidupan komunitas. . . . .

Mengapa cerita-cerita dan tradisi-tradisi lisan itu akhirnya ditulis?—lha ini masalahnya. . . . Mungkin untuk berkomunikasi antara satu komunitas dengan komunitas yang lain. Satu-satunya cara dengan mana komunitas-komunitas Kristen yang berlainan dan yang berhubungan dengan satu sama lain bisa memastikan bahwa tradisi-tradisi mereka seragam dan bisa dinikmati bersama-sama adalah dengan menuliskan tradisi-tradisi itu, dan dengan demikian mengkomunikasikan tradisi-tradisi itu. Juga mungkin bahwa itu ditulis untuk digunakan sebagai surat rekomendasi. Nah, ijinkan saya menjelaskan hal ini, sebab ini kedengarannya agak aneh. Kita tahu bahwa para penginjil Kristen melakukan perjalanan ke segala penjuru sambil menciptakan mukjijat, dan juga menceritakan mukjijat-mukjijat yang telah mereka lakukan di tempat-tempat lain dan pada saat yang sama juga mukjijat-mukjijat Yesus yang telah mereka tulis untuk digunakan sebagai akreditasi ketika mereka masuk ke sebuah komunitas baru. . . . .

Jadi penulisannya adalah untuk tujuan-tujuan khusus—barangkali naratif sengsara itu ditulis juga untuk memastikan di antara komunitas-komunitas yang berlainan bahwa kisah yang akan mereka ceritakan tentang sengsara Yesus dalam perayaan Ekaristi adalah kisah-kisah yang diceritakan dalam alur-alur yang sama. Tetapi bahkan penulisan sebuah kisah pada suatu titik manapun tidak berarti bahwa kisah itu sekarang mapan atau menjadi baku. Sebab kita berangkat dari menceritakan kisah ke menuliskan kisah, tetapi kisah yang tertulis itu sekarang digunakan lagi untuk menceritakan kisahnya dalam sebuah situasi liturgis baru. Dan seterusnya sehingga proses penulisan berikutnya bisa tampak berbeda daripada penulisan pertamanya. Dan karena itu kita tidak bisa begitu saja bicara tentang sebuah tradisi yang dulu bersifat lisan dan kemudian dimapankan . . . . .

Judul asli: “Importance of the Oral Tradition”

http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, Desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: