Gnostik dan Bidaah-bidaah Lain

22/01/2010

Dokumen-dokumen purba  mengisyaratkan bahwa komunitas-komunitas Kristen pertama mempunyai interpretasi-interpretasi yang berbeda secara radikal mengenai makna kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus.

Elaine H. Pagels:

The Harrington Spear Paine Foundation Professor of Religion Princeton University

Teks-teks Gnostik Nag Hammadi

Penemuan di Nag Hammadi diawali dengan seorang Arab pedesaan yang bernama Mohammed Ali, yang sedang melakukan pekerjaan sehari-hari bersama saudara-saudaranya. Mereka menaikkan pelana ke atas unta-unta mereka dan pergi keluar dari desa, sebuah pemukiman kecil di pinggiran Mesir selatan yang gersang. Mereka membawa unta-unta mereka sebuah bukit di dekatnya, yang penuh dengan ribuan gua. Gua-gua itu, ribuan tahun yang lalu,  digunakan sebagai gua kuburan. Tetapi mereka akan menggali bagian kaki bukit, mencari tahi burung yang akan dipakai sebagai pupuk tanaman. Dan Mohammed mengatakan beliungnya mengenai sesuatu ketika ia menggali sampai ke bawah tanah. Dan karena dipenuhir asa ingin tahu, ia terus menggali, dan ia terkejut ketika menemukan sebuah tempayan sepanjang enam kaki yang ditutup rapat. Di samping tempayan itu terkubur sesosok mayat. Mohammed mengatakan dia ingin membuka tempayan itu, tetapi ragu-ragu karena takut ada jin di dalamnya. Tetapi harapan mengalahkan ketakutan, katanya, dan ia angkat beliungnya dan ia pukul tempayan itu, dan melihat keping-keping emas beterbangan dari dalam tempayan, yang membuatnya kegirangan. Tetapi sesaat kemudian ia sadar bahwa itu bukan keping emas, tetapi hanya  remah-remah papirus. Nah, Mohammed Ali tidak dapat membaca teks-teks itu. Ia tidak bisa membaca tulisan Arab, bahasa dia sendiri. Padahal teks-teks itu ditulis dengan bahasa kuno yang aneh. Sebenarnya itu bahasa Koptik, bahasa Mesir 1400 tahun yang lalu. Meskipun begitu, teks-teks itu ia masukkan kedalam kantong, yang lantas ia lemparkan ke atas punggung dan ia bawa pulang, dan ia lemparkan ke lantai tanah di dalam rumahnya , dekat tungku. Belakangan ibunya mengatakan bahwa ia mengambil sebagian dari teks-teks itu, yang ia lemparkan kedalam tungku untuk menghidupkan api karena ia sedang memanggang roti. Apa yang lama kemudian baru kita ketahui adalah bahwa pemicu api itu mengandung sebagian dari teks-teks paling berharga abad ke-20. Yang menguak bagi kita sebuah cara baru untuk mengamati dunia Kristen purba.

Kesemuanya ada 57 teks, tidak terhitung keping-keping yang sudah dibakar tadi, yang isinya apa kita tidak tahu. Dan teks-teks itu mengandung, beberap dari mereka, injil-injil rahasia, misalnya Injil Thomas, Injil Filipus. Injil Mari Magdalena adalah teks serupa yang ditemukan secara terpisah. Mereka juga berisi percakapan-percakapan antara Yesus dengan murid-muridnya . . . segala macam literatur dari era Kristen purba, penemuan teks utuh yang nyaris mirip Perjanjian Baru tetapi sangat berlainan.

[Lebih jauh mengenai teks-teks yang diketemukan di Nag Hammadi itu, baca cuplikan dari tulisan Elaine Pagels,  Yhe Gnostic gospels. Plus, baca cuplikan-cuplikan dari injil-injil  gnostik Injil Thomas dan Injil Maria Magdalena

GNOSTIKISME

Istilah gnostikisme seringkali digunakan sebagai semacam istilah payung untuk mencakup orang-orang yang tidak disukai oleh para pemimpin gereja. Istilah itu mungkin mencakup aneka macam sudut pandang. Meskipun begitu ada satu tema: cara saya menghubungkan teks yang kita anggap sebagai gnostik adalah adanya perasaan bahwa yang ilahi akan diketemukan oleh sesuatu pencarian batin, dan bukan sekedar oleh seorang penyelamat yang berada di luar diri anda.

Bagaimana orang mendemonstrasikan bahwa dia telah memperoleh sesuatu pengtetahuan rahasia? Bagaimana orang-orang gnostik itu sendiri mendemonstrasikan dan memahami pengetahuan batin rahasia itu?

Banyak sekali orang Kristen, yang tidak diapresiasi oleh banyak pemimpin gereja, percaya bahwa kebangkitan spiritual didemonstrasikan dalam kemampuan seseorang untuk berbicara entah dalam pewahyuan atau dalam penampakan-penampakan mimpi. . . . . Orang-orang Kristen seperti itu seringkali berbicara dalam syair-syair, dalam nyanyian-nyanyian, dalam dongeng-dongeng yang akan kita katakan keluar dari im ajinasi kreatif atau imajinasi religius. Bapa-bapa gereja berkeberatan [terhadap hal itu] dan mengatakan, “Well, mereka cuma mengarang banyak sampah. Mereka hanya menciptakan sesuatu dari perasaan mereka sendiri, dan ini konyol.” Tetapi sebagaimana [orang-orang gnostik] memandangnya, perasaan tentang adanya sesuatu suara yang orisinil, sesuatu penampakan yang orisinil, adalah—sebagaimana yang kita bisa kita lihat, misalkan, di sebuah kelas creative writing jaman sekarang—bukti bahwa orang itu telah menemukan suaranya yang sejati.

Apakah orang-orang gnostik memandang diri mereka sendiri sebagai orang luar?

Orang-orang yang menulis dan mengedarkan injil-injil seperti Injil Thomas jelas tidak menganggap diri mereka sendiri sebagai bidaah. Mereka menganggap diri sendiri sebagai orang-orang Kristen yang telah menerima sesuatu pengajaran rahasia, selain injil-injil yang lain itu. Misalkan dalam bab 4 Injil Markus, Markus mengatakan bahwa Yesus mengajarkan hal-hal tertentu secara privat pada murid-murid. Dan Paulus juga mengatakan bahwa ia menerima pengajaran rahasia. Dan orang-orang itu mengkalim memberikan beebrapa ajaran rahasia Yesus. Apakah ia benar-benar mengajar secara rahasia atau tidak, kita tidak tahu.  Tetapi Injil Thomas mengkalim hal itu sebagai pengajaran rahasia.

Apakah orang-orang yang disebut Gnostik itu sekarang masih ada? Apa yang terjadi pada mereka?

Seorang juru bicara bagi gereja ortodoks menyebut orang-orang Kristen tertentu sebagai gnostik. Kita tidak tahu persis apa yang mereka maksudkan dengan istilah itu, kecuali bahwa mereka tidak menyukai sudutpandang-sudutpandang mereka. Orang-orang yang mereka sebut gnostik itu pasti menganggap diri sendiri orang Kristen. Dan mereka adalah orang-orang Kristen dengan sudut pandang yang sangat beraneka ragam. Maksud saya, sekarang kita menganggap Kristianitas tampak beraneka ragam. Jika anda memandang dari gereja-gereja Pantekosta ke gereja-gereja Katolik Roma, ke gereja-gereja ortodoks, ke segala macam gereja Protestan yang bisa orang bayangkan, kita menganggap itulah kebhinekaan. Tetapi sebenarnya sebagian besar orang-orang Kristen masa kini memiliki kesamaan umum, yaitu daftar tulisan-tulisan Perjanjian Baru; mereka juga memiliki kesamaan struktur gereja, dan sejumlah inti kepercayaan tertentu. Tetapi di jaman dahulu belum ada daftar injil-injil yang telah disepakati. Belum ada daftar doktrin-doktrin yang telah disepakati. Dan belum ada struktur yang telah disepakati. Jadi sebenarnya gerakan Kristen purba jauh lebih beraneka-ragam. Dan barangkali itu sebabnya bagian-bagian tertentu dari gerakan itu tidak bisa bertahan hidup.

“BIDAAH” DIDEFINISIKAN SEBAGI RESPONS TERHADAP PENGANIAYAAN

Sejauh yang kita ketahui, komunitas-komunitas Kristen paling awal mempunyai seribu-satu sudut pandang dan sikap dan pendekatan, sebagaimana telah dikatakan tadi. Tetapi memasuki abad kedua, anda mulai melihat hirarki-hirarki uskup-uskup, imam-imam, dan diakon-diakon bermunculan di berbagai komunitas dan mengklaim berbicara untuk mayoritas. Dan dengan perkembangan itu, barangkali ada pemimpin tertentu yang mengeluarkan penegasan yang bertentangan dengan sudut pandang pemimpin-pemimpin lain yang dianggap berbahaya dan bidaah. Salah satu masalah yang membuat komunitas-komunitas itu terpolarisasi, mungkin masalah yang paling mendesak dan urgen, adalah penganiayaan. Maksudnya, orang-orang itu, yang semuanya Kristen, menjadi bagian dari sebuah gerakan yang illegal. Adalah berbahaya untuk menjadi bagian dari gerakan itu. Anda bisa ditahan jika anda dituduh anggota Kristen—anda bisa diadili—anda bisa disiksa dan dieksekusi jika anda menolak untuk mengingkari kepercayaan anda. Dan dengan adanya tekanan itu, banyak orang mengatakan, “Kita ingin tahu, jika ada orang yang bergabung dengan gerakan ini, apakah orang itu akan berdiri tegak bersama kita, atau dia akan pura-pura bukan anggota kita. Jadi mari kita perjelas siapa yang ikut kita. . . . . . .”

Uskup Irenaeus baru berumur sekitar 18 sampai 20 tahun ketika komunitasnya yang kecil secara absolut dibasmi oleh penganiayaan. Mereka mengatakan bahwa 50 sampai 70 orang di dua kota kecil disiksa dan dieksekusi. Itu berarti ratusan orang digiring dan dijebloskan ke penjara. Tetapi 50 sampai 70 dieksekusi di depan publik di dua kota kecil berarti sebuah penghancuran total bagi komunitas yang hidup dalam kantong-kantong itu. Dan Irenaeus berusaha keras untuk menyatukan orang-orang yang masih tersisa. Yang membuat dia frustrasi adalah bahwa mereka tidak mempercayai hal-hal yang sama. Mereka tidak berkumpul di bawah satu kepemimpinan. Dan Irenaeus, juga orang-orang lain, betul-betul sadar akan bahayanya fragmentasi, bahwa satu komunitas bisa hilang. Jadi dari keprihatinan yang sangat mendalam itulah, saya kira, Irenaeus dan orang-orang lain mulai berusaha menyatukan gereja, dan menciptakan kriteria seperti—anda tahu lah—injilnya ini, empat ini. Ini adalah apa yang kita percayai, ini adalah ritual-ritualnya, yang ini anda kerjakan paling dulu, dan sebagainya dan sebagainya. Anda dibaptis dulu, dan baru kemudian anda jadi anggota.

Adalah absurd untuk menduga bahwa para pemimpin gereja pada waktu itu mati-matian berusaha melindungi kekuasaan mereka. Sebab untuk menjadi seorang uskup di sebuah gereja di mana uskup yang lama sudah berusia 92 tahun dan baru saja mati di dalam penjara—dan itulah  yang Irenaeus lakukan ketika masih sangat muda—dia punya keberanian untuk menjadi uskup, untuk menjadi target penganiayaan berikutnya. Itu bukan posisi kekuasaan. Itu adalah posisi bahaya dan nyali. Dan orang-orang itu sedang berjuang keras untuk menyatukan gereja. Jadi akan konyol untuk menceritakan kisah tentang gerakan Kristen purba. . . . .  sedemikian rupa sehingga seolah-olah orang-orang ortodoks itu gila kekuasaan, berusaha menghancurkan semua kebhinekaan di gereja. Realitanya jauh lebih rumit.

Sosiolog Max Weber telah menunjukkan bahwa sebuah gerakan keagamaan, jika dia tidak mengembangkan struktur institusional dalam tempo satu generasi sesudah kematian pendirinya. . . . . gerakan itu tidak akan bertahan hidup. Jadi, saya kira, gerakan Kristen bisa bertahan hidup adalah berkat bentuk-bentuk yang dikembangkan oleh Irenaeus dan orang-orang lain—anda tahu lah, daftar kitab-kitab yang bisa diterima, daftar ajaran-ajaran yang bisa diterima, daftar ritual-ritual. . . . . .

Harold W. Attridge:

The Lillian Claus Professor of New Testament Yale Divinity School

GNOSTIKISME

Gnostikisme itu apa? Bagaimana gnostikisme lahir?

Gnostikisme adalah sebuah istilah yang secara etimologis terkait dengan kata “mengetahui.” Istilah itu mempunyai akar yang sama dengan kata Inggris “kno”—yang terkait dengan kata Yunani “gno” atau “gnosis.” Dan Gnostik adalah orang-orang yang mengklaim mereka mengetahui sesuatu hal yang khusus. pengetahuan itu bisa pengetahuan tentang seseorang—kedekatan personal dengan sang ilahi seperti yang mungkin diinginkan oleh seorang mistik. Atau bisa juga itu pengetahuan proposional tentang kebenaran-kebenaran kunci tertentu. Orang-orang gnostik mengklaim ledua jenis pengetahuan itu. Tetapi di abad kedua, klaim memiliki sesuatu pengetahuan istimewa tidak terbatas pada kelompok tertentu saja. Itu tersebar luas, dan kita mendapatkan klaim-klaim yang tengah diketengahkan oleh guru-guru yang lumayan ortodoks seperti Clement dari Alexandria, kita mendapatkan klaim-klaim yang diketengahkan oleh segala macam guru lain selama periode itu..

Bagaimana Gnostikisme lahir? Bagaimana dia berkembang?

Sulit mengetahui dengan tepat bagaimana gnostikisme muncul. Sebab cara kita menggunakan istilah itu sekarang ini adalah sebuah cakupan untuk aneka macam fenomena yang terjadi sepanjang abad kedua. Satu alur utama gnostikisme rupanya muncul sebagai sebuah cara untuk merenungkan kitab-kitab Yahudi dan tradisi-tradisi Yahudi mengenai turunnya malaikat-malaikat untuk melahirkan anak-anak lewat manusia. Dengan menggunakan tradisi-tradisi tua untuk merenungkan mengapa ada kejahatan di dunia ini. Jadi dari sudut pandang tertentu, gnostikisme adalah sebuah gerakan yang mempunyai dimensi filosofis atau teologis untuk bergulat dengan masalah theodicy. Dan banyak orang-orang gnostik memecahkan masalah itu dengan mengatakan bahwa ada dikotomi yang tajam antara dunia materi dengan dunia roh, dan mereka sangat tertarik untuk menyelami dunia roh, dengan jalan membebaskan diri mereka sendiri dari dunia materi. Mereka menjelaskan dikotomi itu dengan teori-teori njlimet mengenai bagaimana roh sampai terlibat dengan materi—dan kemudian dengan praktek-praktek, biasanya praktek-praktek asketik, untuk memungkinkan roh kembali ke tempatnya sendiri.

Mengapa itu dipandang sebagai bidaah?

Menjelang akhir abad kedua, ada perdebatan lumayan sengit antara guru-guru, teolog-teolog Kristen, mengenai cara terbaik untuk mengartikulasikan kepercayaan Kristen. Oleh para pengritik mereka,  orang-orang gnostik dituduh melakukan kesalahan fundamental mengenai hubungan antara Tuhan sebagai pencipta dengan Tuhan sebagai penebus. Dan rupanya mereka mengisyaratkan—setidak-tidaknya beberapa dari mereka mengisyaratkan—bahwa kuasa ilahi yang menciptakan dunia ini adalah makluk inferior, inferior bagi Tuhan spiritual sejati yang menghendaki keselamatan semua manusia—atau setidak-tidaknya semua manusia yang memiliki kemampuan untuk tahu. Perbedaan antara kepercayaan pada penciptaan dan kepercayaan pada penebusan itu oleh para teolog seperti Irenaeus dipandang sebagai kesalahan fundamental yang menyimpang secara radikal dari kesaksian alkitab.

Satu hal lain yang dikhawatirkan oleh orang-orang gnostik adalah hubungan antara elemen ilahi dengan elemen manusiawi dalam Yesus, dan dalam beberapa kasus mereka rupanya telah membuat pembedaan serupa antara ilahi dengan manusiawi, yang menempatkan elemen-elemen tadi dalam sebuah oposisi tajam—sebuah oposisi yang oleh para penentang mereka dipandang sebagai kesalahan. Dengan membuat pembedaan tadi, mereka cenderung mengingkari kemanusiaan fisik Yesus, dan guru-guru ortodoks seperti Irenaeus menjelang akhir abad kedua ingin sekali menandaskan kemanusiaan Yesus sebagai sebuah contoh bagi pengikut-pengikutnya. Adalah sangat penting untuk menegaskan bahwa Yesus benar-benar menderita dan mati di kayu salib, sebab orang-orang Kristen pada waktu itu juga dipanggil untuk menderita dan mati sebagai saksi, sebagai martir bagi kepercayaan mereka. Dan jika dengan mengikuti beberapa orang gnostik itu orang Kristen bisa mengingkari penderitaan fisik Yesus, anda mungkin akan mempertanyakan kewajiban untuk berdiri tegak dan memberikan kesaksian bagi kepercayaan  itu.

Apa yang orang-orang gnostik percayai sebagai terjadi pada waktu penyaliban?

Lain gnostik lain kepercayaan tentang kematian dan kebangkitan  Yesus. Tetapi ada orang-orang yang—yang kita sebut docetist—yang percaya bahwa kematian dan penderitaan Yesus adalah hal-hal yang terjadi hanya secara semu, atau jika hal-hal itu terjadi, sebenarnya itu terjadi tanpa menyentuh inti dari realita spiritual Yesus. Dan karena itu mereka menolak penekanan pada kedua kutub dari apa yang kemudian menjadi jantung kepercayaan ortodoks, yaitu kematian dan kebangkitan kembali Yesus.

Bagaimana imaji Yesus berubah dalam tradisi Yudeo-Kristen Gnostik?

Ada teks-teks yang berlainan dalam kumpulan materi yang kita sebut gnostik itu, yang merupakan presentasi dari ajaran-ajaran Yesus atau pribadi Yesus. Beberapa dari teks-teks itu, misalnya Injil Thomas, yang setidak-tidaknya merupakan tulisan yang sifatnya semi-gnostikasi, yang menampilkan Yesus sekedar sebagai seorang guru, seorang guru kebijaksanaan. Orang yang tidak mengalami kematian yang penuh penderitaan dan kenistaan di kayu salib dan tidak mengalami kebangktian kembali. Jadi fokus pada Yesus sebagai seorang guru merupakan salah satu karakteristik dari aliran Kristianitas yang kemudian disebut gnostik itu.

Sebuah teks lain yang disebut Injil Kebenaran sama sekali bukanlah naratif mengenai kematian dan kebangkitan kembali Yesus. Itu adalah sebuah permenungan simbolik mengenai tema-tema tertentu yang berasal dari alkitab dan yang diasosiasikan dengan kehidupan dan ajaran-ajaran Yesus. Tetapi permenungan simbolik itu adalah sebuah cara untuk membuat para pendengar atau pembaca teks itu berpikir mengenai hubungan mereka dengan Tuhan, hubungan esensiil mereka dengan yang ilahi dan dunia roh . . . . . .

Apa yang ada dalam pikiran orang-orang gnostik ketika mereka mendengar himne seperti “Thunder, The Perfect Mind?”

Himne ‘Thunder, the Perfect Mind” adalah serangkaian teka-teki yang mengetengahkan pernyataan-pernyataan kontradiktif  mengenai sesuatu figur yang misterius. Teka-teki seperti “Aku adalah ibu, dan aku adalah anak perempuan. Aku adalah isteri dan aku adalah pelacur.” Well, teks seperti itu menggugah pertanyaan, siapa sih si “aku” yang sedang bicara ini? Dan karena itu teks itu barangkali adalah sebuah teks yang digunakan untuk menstimulir permenungan tentang sesuatu prinsip spiritual—apapun prinsip spiritualnya. Sosok pengungkapnya, misalnya, kebijaksanaan ilahi yang oleh banyak orang gnostik dipandang sebagai figur penting dalam sejarah keselamatan.

Judul asli: “The Gnostics and Other Heretics”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat, 20 November 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: