Dongeng dan Ritual di Yunani, Romawi, dan Kristianitas Purba

22/01/2010

Ceramah oleh Helmut Koester

30 Mei 1998, Harvard University

[Ceramah ini telah diedit. Di bagian pertama, Koester membahas hubungan antara dongeng dan ritual di Era Augustus]

AWAL-MULA KRISTIANITAS, KISAH SENGSARA, DAN EKARISTI

Hubungan erat antara dongeng dengan ritual dahulu sangat fundamental, juga di Israel. Ketika perjanjian diperbaharui dalam perayaan-perayaan utama Israel, misalnya Hari Pertobatan dan Paskah, dongeng tentang exodus dari Mesir dan tentang pemimpin serta penggaris hukum Musa diceritakan kembali. Dongeng itu bahkan dilestarikan dalam bentuk tertulis dalam Injil Israel dalam lebih dari satu versi, dan dirayakan dalam berbagai mazmur. Itu adalah kisah bagaimana lewat exodus berbagai suku Israel akhirnya menjadi satu bangsa. Orang-orang Yunani mendapatkan diri mereka terpadu kedalam satu bangsa dalam kisah besar tentang peperangan melawan Troya, ke mana semua suku, kerajaan, dan kota mengirimkan kontingen mereka. Bangsa Israel diciptakan oleh kisah yang menjadikan mereka semua anak keturunan Yakob (Israel). Semua bisa mengklaim bapa (anak-anak Yakob dan keturunan mereka) yang telah secara mentakjubkan dibawa keluar dari Mesir, menyeberang lautan dan padang pasir, dan akhirnya memasuki tanah terjanji. Perjanjian itulah yang diperagakan dalam ritual-ritual dan persembahan-persembahan dalam perayaan-perayaan tahunan, dan tentu saja itu adalah kisah yang sampai sekarang masih dirayakan dan diceritakan, dan hadir dalam ritual, dalam setiap perayaan Paskah di masa sekarang ini.

Tetapi sepanjang masa berabad-abad itu, janji-janji tentang karunia-karunia yang terkandung dalam perjanjian itu lebih merupakan harapan ketimbang realita. Karunia-karunia itu tampak kasat mata hanya dalam periode singkat pemerintahan David dan Solomon. Dan masa itu dikenang sebagai jaman keemasan Israel. Tetapi kerajaan utara telah dihancurkan oleh bangsa Assyria, orang-orangnya diboyong keluar dan lenyap. Kerajaan selatan yang masih tersisa (Yudea) telah tunduk pada bangsa Babylonia dan sejumlah besa populasinya diasingkan ke Babylon. Memang, orang-orang Persia mengijinkan mereka pulang dan membangun kembali kuil mereka di Yerusalem, dan rupanya juga menginjinkan reorganisasi sisa-sisa utara di bawah kepemimpinan para imam Sumeria. Tetapi itu sebenarnya apa? Dua kerajaan kuil kecil sebagai vassal Persia, yang kemudian berada di bawah dominasi raja-raja Hellenistik sesudah penaklukan Alexander Agung, dan setelah kurang dari satu abad menikmati kemerdekaan di bawah para penguasa Hasmonean lalu ditaklukkan oleh Romawi dan dipadukan menjadi satu kedalam provinsi Romawi Syria.

Tetapi ramalan itu tidak mati, dan harapan masih tetap hidup dan secara konstan diperbaharui. Harapan itu diekspresikan dengan aneka macam bentuk, entah itu kitab kedua Isaiah, yang meramalkan kembalinya Musa sebagai pelayan, tetapi sekarang sebagai pelayan yang harus menderita dan kemudian dimuliakan oleh Tuhan; atau dalam bentuk harapan akan penciptaan sebuah langit dan bumi baru di mana bangsa terpilih Isreal akan bangkit menjadi penguasa dunia, seperti dalam literatur apokaliptik Daniel, Enoch, dan lain-lain; atau entah itu dalam bentuk pengasingan diri bangsa terjanji ke Qumran di Laut Mati, di mana mereka merayakan perjamuan-perjamuan mereka dalam pengharapan akan datangnya perjamuan messianik dengan sang imam terurapi dan sang raja terurapi. Sejarawan Yahudi Josephus bercerita tentang begitu banyaknya nabi-nabi messianik yang muncul di Palestina dalam dekade-dekade pertama abad pertama Era Bersama, nabi-nabi yang berusaha memperagakan kembali atau menyiapkan pembebasan messianik Israel.

Salah satu dari nabi-nabi yang dikenang dalam injil-injil Perjanjian Baru adalah Yohanes Pembaptis.  Dengan menyodorkan kesempatan terakhir akan pertobatan, ia memproklamasikan pengadilan Tuhan yang akan segera tiba dan yang akan mengawali pemerintahan Tuhan. Yesus adalah salah seorang murid Yohanes Pembaptis, yang dibaptis oleh dia dan yang rupanya meneruskan pewartaannya tentang akan segera tibanya pemerintahan Tuhan. Salah satu dari fakta-fakta yang telah dinyatakan sebagai absolut, sebagaimana dinyatakan oleh para ahli, mengenai biografi Yesus, adalah bahwa ia dibaptis oleh Yohanes. Tidak diragukan lagi bahwa Yesus pernah menjadi murid Yohanes. Tetapi pada tahun 29 atau 30, tepat pada hari perayaan Paskah yang dimulai pada saat matahari tenggelam (dengan mengikuti penanggalan injil Yohanes), Yesus dari Nazareth itu disalib di Yerusalem oleh gubernur Romawi Pontius Pilatus sebagai seorang penjahat politik. Tulisan di kayu salib menyatakan bahwa ia adalah Uesus dari Nazareth, raja bangsa Yahudi.

Apa yang kemudian terjadi? Ini adalah pertanyaan yang paling sulit dan penuh teka-teki. Injil-injil Perjanjian Baru tidak bisa dijadikan panduan yang bida diandalkan; semua injil itu ditulis sekian dekade atau bahkan lebih dari satu abad setelah kejadian tadi. Para penulisnya adalah bagian dari generasi kedua atau ketiga sesudah Yesus. Memang, adalah mungkin untuk menemukan dalam tulisan-tulisan itu materi-materi dan tradisi-tradisi yang lebih tua. Meskipun begitu, nilai dari tradisi-tradisi seperti itu dan hubungan mereka dengan Yesus merupakan masalah yang sangat kompleks. Metodologi historis terlebih dahulu menuntut penyelidikan tentang sumber-sumber yang tersedia sampai ke yang tertua. Dan sumber-sumber awal seperti itu memang ada, yaitu surat-surat rasul Paulus, yang ditulis mendahului injil-injil tertua dengan selisih waktu sekitar 20 tahun, tetapi yang ditulis sekitar 20 atau 25 tahun sesudah penyaliban dan kematian Yesus. Lebih-lebih lagi, penulisnya harus dianggap sebagai orang yang sejaman dengan Yesus. Dalam surat kepada Philemon, yang kemungkinan besar ditulis pada tahun 54, Paulus menyebut dirinya sendiri seorang tua (seorang presbites dalam bahasa Yunani), yang menurut usage bahasa Yunani tradisional mengisyaratkan orang yang umurnya 50-60 tahun. Sekarang ini kita mempunyai cara yang lain untuk mendefinisikan orang “tua,” tetapi pada waktu itu jika ada orang yang mengatakan, “Aku orang tua,” barangkali umurnya 54 tahun. Itu akan menempatkan Paulus sebagai orang yang sejaman dengan Yesus. Lebih-lebih lagi, menurut pengakuan Paulus sendiri mengenai tahun-tahun pewartaannya dalam suratnya kepada jemaat Galatia, panggilannya sebagai seorang rasul harus ditetapkan sebagai tidak lebih belakangan dari tahun 35, barangkali malah lebih awal lagi. Intinya, Paulus jelas merupakan anggota dari generasi pertama dan merupakan saksi tunggal kita bagi perkembangan-perkembangan paling awal. Dan karena itu ketika Paulus menyebut-nyebut tentang tradisi, berarti tradisi itu jelas lebih tua. Tradisi-tradisi kita, ketika Paulus mengatakan bahwa ia menerima tradisi-tradisi itu pada awal mula karyanya, adalah tradisi-tradisi tentang Yesus, yang terbentuk selama paruh-dekade pertama pembentukan komunitas Kristen.

Tulisan-tulisan Paulus melestarikan sejumlah formula tradisional, dan sekarang saya ingin bicara tentang dua formula yang terpenting, dan keduanya telah ditunjukkan pada anda sekalian oleh Michael White dalam ceramah terdahulu, yaitu dalam I Korintus 11 dan I Korintus 15. Di kedua tempat itu, Paulus menyebutkan bahwa ia mewarisi tradisi-tradisi itu. Tradisi pertama yang disebut-sebut secara eksplisit, dalam I Korintus 11, 23-25, menyangkut ritual komunitas, yaitu perayaan ekaristi. Dalam formula yang dikutrp itu, Paulus mengatakan bahwa ia menerima tradisi itu dari tuhan. Ini betul-betul menggelitik, karena hal itu tidak mungkin berarti Yesus sendiri mengkomunikasikan formula itu kepada Paulus. Lebih tepat lagi, Paulus dengan cara itu menyatakan Tuhan sebagai pencipta tradisi itu. tetapi orang tidak dapat menarik kesimpulan bahwa dengan demikian kata-kata institusi, dalam bentuk mana Paulus menyebutkan kata-kata itu, diciptakan oleh Yesus historis. Orang tidak dapat menyimpulkan hal ini karena bagi orang-orang Kristen generasi pertama perbedaan antara Yesus historis dengan Yesus yang telah bangkit tidak ada. Perbedaan ini adalah ciptaan modern. Bagi komunitas-komunitas Kristen paling tua, dan bagi Paulus, Yesus historis dan Yesus yang telah bangkit adalah sosok yang sama dan satu, dan bukan dua entitas yang berlainan. Jadi Yesus historis bisa saja berbicara melalui seorang nabi setelah kematiannya, sama seperti Yesus bisa saja telah bicara sebelum kematiannya. Dan Paulus serta orang-orang Kristen paling awal tidak akan membedakan di antara keduanya. Namun Paulus menambatkan tradisi itu dalam situasi historis perjamuan terakhir Yesus—perjamuan terakhir Yesus dengan murid-muridnya. Dengan demikian Paulus menyatakan adanya suatu kontinuitas antara perjamuan yang dirayakan oleh komunitas dengan perjamuan yang dirayakan oleh Yesus pada malam ia dikhianati.

Nah, muingkinkah kita menarik kesimpulan bahwa perjamuan komunitas Kristen itu berasal dari perjamuan-perjamuan yang Yesus rayakan bersama murid-muridnya? Dan jawaban saya terhadap pertanyaan itu adalah YA. Bahkan ada bukti kuat bahwa Yesus merayakan perjamuan-perjamuan umum bersama murid-murid dan sahabat-sahabatnya. Apa yang disebutkan dalam cerita-cerita tentang perjamuan terakhir Yesus, maupun dalam informasi lain, mengisyaratkan bahwa perjamuan-perjamuan umum pasti telah dipahami sebagai antisipasi perjamuan Allah, perjamuan kerajaan Allah.  Tetapi informasi yang kita miliki dalam sumber-sumber kita datang dari dua tradisi ekaristi yang berbeda. Biasanya tidak dijelaskan bahwa sebenarnya kita mempunyai dua tradisi ekaristi yang sangat berlainan. Yang pertama adalah tradisi yang kita temukan dalam I Korintus 11, dan itu juga tercermin dalam injil Markus, dan kemudian Mateus dan Lukas. Tetapi kita juga mempunyai tradisi ekaristi lain yang memiliki kesamaan-kesamaan serta perbedaan-perbedaan dengan tradisi I Korintus 11. (Ini saya sebut tradisi I Korintus 11.) dan itu adalah tradisi yang berasal dari sebuah tulisan non-kanonik, yang disebut Didache atau ajaran kedua-belas rasul. Itu adalah manual gereja Kristen paling tua yang kita miliki, dan itu ditulis sekitar awal abad kedua, tetapi jelas ditulis berdasarkan materi-materi yang jauh lebih tua, yang kemungkinan besar berasal dari jaman paruh pertama abad pertama. Dan manual gereja itu juga mencakup sebuah tradisi tentang ekaristi, yang pasti sudah sangat tua. Dan ini sangat, sangat menarik. Didache adalah sebuah tulisan yang diketemukan baru pada akhir abad yang lalu. Dahulu sudah diketahui bahwa kitab itu memang ada, karena ajaran-ajaran gereja amsa kemudian menyebut-nyebutkannya. Tetapi dokumen aslinya sendiri baru diketemukan dan dipublikasikan sekitar 100 tahun yang lalu. Nah, dalam Didache kita mendapatkan doa-doa ekaristik yang mengekspresikan kesadaran jemaat yang membangun doa-doa itu. Dalam kedua tradisi itu, tradisi I Korintus 11 dan tradisi Didache, orientasi eskatologis adalah maha dominan. Maksudnya, kedua tradisi itu berorientasi ke arah perjamuan dan kerajaan Allah di masa mendatang. Saya rasa tidak diragukan lagi bahwa pandangan eskatologis terhadap perayaan perjamuan itu berasal dari Yesus sendiri. Itu berkembang dalam dua arah yang berbeda: yang satu dalam tradisi yang kita ketemukan dalam Paulus, yang lain tradisi dlaam Didache.

Ada tiga bagian konstituen dari tradisi ritual yang muncul dalam kedua sumber tersebut—tiga bagian yang sangat penting. Pertama: orietnasi eskatologis. Dalam tradisi Pauline-Markus, dalam Markus 14:25,  kata-kata institusi ditutup dengan sebuah kalimat yang mengantisipasi kembalinya Yesus di masa mendatang: “Aku tidak akan minum dari buah pokok anggur ini sampai aku meminumnya dalam kerajaan Allah.” Sebuah korespondensi yang dekat bisa ditemukan dalam perintah Paulus dalam I Korintus 11:25: “Sesering kamu makan roti ini dan minum dari piala ini, kamu akan mewartakan kematian Tuhan sampai ia datang.” Tetapi juga dalam tradisi Didache kita mendapatkan orientasi eskatologis serupa, sebab liturgi Didache tentang ekaristi diakhiri dengan kata-kata Aramaik maro natha, yang berarti “tuhan kita datang,” yang juga sudah tidak asing bagi Paulus. Ia mengutip kata-kata itu dalam I Korintus. Jadi orientasi eskatologisnya cukup jelas, sekalipun berbeda dalam masing-masing kasus.

Kedua, roti muncul sebagai sebuah simbol bagi komunitas eskatologis. Ini diekspresikan dalam I Korintus 10, 16-17: “Roti yang kita pecah-pecahkan, bukankah itu berbagi dalam tubuh Kristus?” Karena rotinya satu, kita yang banyak ini adalah satu tubuh. Begitu pula, dalam I Korintus 11, roti sebagai simbol tubuh Kristus menengarai komunitas, bukan jasat Yesus. Paralelisme antara roti dan anggur yang mengisyaratkan tubuh dan darah Yesus itu datang belakangan. Itu tidak diketemukan dalam Didache. Itu tidak diketemukan dalam Paulus. Paulus khususnya menenmpatkan secara berdampingan roti dan piala—bukan anggur. Dan roti serta piala itu masing-masing mempunyai referensi simbolik. Dan referensi roti adalah bukan pada jasad Yesus; referensi roti adalah pada tubuh Kristus, yaitu gereja. Dan karena itu dalam I Korintus 11, ketika Paulus mengatakan, “Semua yang makan dan minum tanpa memperhatikan tubuh ini berarti memakan dan meminum penghakiman atas diri mereka sendiri”—tubuh itu di sini adalah komunitas, karena Paulus sedang mengritik orang-orang Korintus karena mereka mengabaikan kaum miskin. Dan mengabaikan kaum miskin pada perjamuan bersama berarti, bagi Paulus, mereka tidak memahami bahwa tubuh Kristus adalah seluruh komunitas. Dan karena itu, bagi Paulus, tidak memperhatikan tubuh Kristus berarti tidak menghormati kaum miskin dalam perjamuan. Dan ekmudian, tentu saja, bab 12 dalam I Korintus, Paulus mengatakan, “Nah, mengenai tubuh Kristus, yang mempunyai banyak fungsi,” dan kemudian ia menggunakan sebuah imaji sosiologis untuk ini. Jadi “tubuh Kristus,” dalam pikiran Paulus, adalah komunitas Kristen. Itu bukan jasad Yesus.

Dalam doa-doa Didache dan ajaran para rasul, kita memperoleh pemahaman yang serupa mengenai roti sebagai simbol komunitas, karena di situ dikatakan, “Sebagaimana roti yang dipecah-pecahkan ini ditebarkan di atas gunung-gunung, tetapi dipersatukan bersama-sama dan menjadi satu, maka biarlah gereja berkumpul bersama-sama dari seluruh penjuru bumi kedalam kerajaanmu.” Dan di sini istilah “tubuh” tidak ada, tetapi sudah jelas, roti itu melambangkan bersatunya seluruh komunitas.

Elemen ketiga: piala. Dalam bentuknya yang paling tua, sebagaimana telah saya katakan, yang penting adalah pialanya, bukan anggurnya. Itu dipahami sebagai simbol perjanjian baru. Tidak ada alasan untuk meragukan ketiga elemen itu—pandangan eskatologis, pemahaman tentang roti sebagai simbol komunitas, dan piala sebagai simbol perjanjian baru.—ketiganya berpangkal bukan secara khusus hanya pada perjamuan terakhir sebelum kematiannya, tetapi juga, dan yang kemungkinan besar jauh lebih sering, perjamuan-perjamuan lain yang Yesus rayakan bersama-sama murid-muridnya sebelum kematiannya. Didache juga mengacu pada piala sebagai “pokok anggur suci dari pelayanmu David yang menjadi dikenal melalui pelayanmu Yesus.” Jadi piala itu mengacu pada pembaharuan perjanjian yang Tuhan buat dengan David dalam Yesus, sekalipun Didache tidak menyebut-nyebut kematian Yesus atau penumpahan darahnya, yang membuat orang bertanya-tanya apakah doa-doa yang kita peroleh dalam Didache (yang dibangun menurut struktur doa-doa perjamuan Yahudi reguler) tidak berasal dari Yesus sendiri. Itu memang spekulasi.  Tetapi jika begitu, jika apapun yang ada di sini berpangkal pada Yesus sendiri, saya kira doa-doa ekaristik dalam Didache kemungkinan besar adalah doa-doa yang akan orang-orang ucapkan pada perjamuan Yahudi, tetapi dinterpetasikan, disimbolisasikan. Tentu saja, I Korintus 11 sudah terlebih dulu mempradugakan kematian Yesus, karena piala itu berbicara tentang kematian Yesus sebagai sebuah pengorbanan bagi perjanjian baru tersebut. Dan kata-kata, “Lakukan ini sebagai peringatan akan daku,” dengan jelas menghubungkan ritual kultis ini dengan kematian Yesus.

Tetapi perjamuan kultis itu tidak berdiri sendiri. ia tidak hanya berdiri sebagai kepanjangan dari sebuah ritual yang berpangkal pada Yesus, tetapi juga harus diinterpretasikan bersama-sama dengan sebuah dongeng. Misalnya, dalam I Korintus 3-5, Paulus mengutip sebuah formula singkat yang berbicara tentang kematian, penguburan, dan kebangkitan kembali Yesus serta penampakan-penampakannya setelah kematiannya.

Nah, apa yang dikutip adalah sebuah formula—maksudnya, semacam sebuah panduan singkat menuju sebuah konteks yang lebih besar. Adalah tidak terbayangkan bahwa yang ada di awal-mula hanyalah formula-formula itu saja, sementara konteks-konteks naratif yang lebih besar dikembangkan di masa kemudian. Dan Paulus tidak mungkin begitu saja muncul di pasar di Korintus lalu berpidato, “Nah, aku sampaikan pada kalian kabar gembira. Kristus mati dan dia dikubur dan dia bangkit kembali, dan dia menampakkan diri pada banyak orang dan juga padaku. Dah, selamat tinggal. Cuma itu yang perlu aku katakan. Sekarang, silahkan minta baptis.” Kita harus berasumsi bahwa formula-formula itu adalah pendahuluan menuju sebuah konteks yang lebih besar. Seperti apa konteks itu? siapa Yesus itu, yang merayakan sebuah perjamuan terakhir, kemudian mati, dikuburkan dan dibangkitkan kembali—semua itu pasti telah diceritakan secara panjang lebar dan terperinci. Formulasi-formulasi yang dikutip oleh Paulus, sebagai sebuah tradisi, sudah secara implisit menyatakan telah adanya bukan saja sebuah ritual yang telah dilembagakan, tetapi juga sebuah naratif dan interpretasi dengan konteks yang lebih luas.

Jadi kehadiran kasat mata Yesus yang paling tua telah  berubah menjadi dongeng tentang sengsara dan kematiannya itu. Dongeng itu memanfaatkan bahasa tradisional kitab-kitab kuno Israel untuk menceritakan sebuah kejadian eskatologis dalam konteks sebuah tindakan kultis yang berakar pada sebuah praktek ritual yang telah dilembagakan oleh Yesus sendiri. Dalam ritual dan dongeng itulah komunitas-komunitas Kristen tertua membangun hubungan dengan sejarah tentang Yesus.

Pola yang telah kita lihat itu (yaitu, hubungan erat antara dongeng dengan ritual) bukan hanya menjadi bagian dari domain sejarah agama dalam pengertian sempit. Paralel-paralel dari Yunani (Illiad karya Homer), dari Romawi (Aeneid karya Virgil), dan dari Israel menunjukkan bahwa di sini kita berhadapan dengan pembentukan komunitas politis, pembentukan dasar-dasar agama. Adalah pola tipikal jaman kuno bahwa bangsa dibentuk oleh ritual dan dongeng. Semua yang berpartisipasi dalam ritual, semua yang berbagi dongeng, dengan demikian menjadi satu nation. Dalam kasus Augustus dan Romawi, dongeng dan ritual menengarai penciptaan era baru perdamaian bagi semua bangsa-bangsa di bawah sebuah perspektif eskatologis. Jadi pendirian komunitas-komunitas Kristen paling awal, dari Yerusalem sampai Antioche dan sampai gereja-gereja Paulus di Asia Minor dan Yunani, bukanlah sekedar usaha asal-asalan untuk membangun sebuah sekte agama baru, sekalipun awal-mulanya mungkin sangat bersahaja.

Sebagaimana dongeng-dongeng Yunani dan Romawi, begitu juga dongeng Kristen baru berakar pada sebuah tradisi yang sangat dihormati darimana dongeng itu mengambil imaji-imaji dan bahasanya. Tetapi sebagaimana epik Virgil mengembangkan sebuah dongeng dari Troy purba, dan menempatkan kisah tentang pendirian Roma oleh Romulus dan Remus ke posisi sekunder, begitu pula naratif kultis Kristen dikembangkan dengan menunggangi dongeng Israel tentang orang-orang lurus yang menderita, dan dengan demikian memasukkan dongeng Israel tentang exodus, tetapi bersamaan dengan itu juga mengakhiri validitas hukum Musa. Pada saat yang sama, kematian Yesus dan pembenarannya dikenang dalam ritual ekaristi sebagai korban pembangunan sebuah perjanjian baru—sebuah tatanan politik baru. Kultus Tuhan Yesus dan dongeng yang melegitimisasikan sebuah Israel baru sebagai sebuah peristiwa eskatologis itu ditambatkan pada bahasa tradisional Israel, dan pada saat yang sama dalam sengsara dan kematian aktual Yesus historis dari Nazareth.

Karena hukum Musa telah dikesampingkan akibat tuntutannya agar Israel memisahkan diri dari dunia non-Yahudi, maka pendirian nation baru itu, yang sekarang terdiri dari baik orang-orang Yahudi maupun non-Yahudi, menuntut sebuah legislasi baru. Sebagaimana Augustus menunggangi legislasi Caesar, komunitas Kristen yang baru itu menggapai ke belakang kepada kata-kata Yesus sebagai bagian dari legislasi ini, khususnya perintah mengasihi dalam mana semua hukum para nabi telah terangkum. Keberpangkalan pada ucapan-ucapan Yesus itu, sebagaimana mudah terlihat dalam, misalnya, I Korintus 7 dan dalam Roma 12, belakangan dalam Khotbah diatas Bukit dari injil Mateus, adalah elemen kontinuitas historis yang penting. Tetapi keberpangkalan itu juga memberikan keleluasaan yang sama sebagaimana Augustus yang menambatkan diri pada legislasi Caesar.

Kontinuitas dengan Yesus historis juga ada dalam pelaporan tentang mukjijat-mukjijatnya, dalam cuapan-ucapannya. Tetapi ini adalah kontinuitas yang harus ditangkap dengan metodologi yang sangat hati-hati.  Tetapi pemahaman bari mengenai signifikansi perayaan perjamuan-perjamuan Yesus (dan yang saya maksudkan di sini adalah perjamuan-perjamuan bersama yang dirayakan oleh Yesus dalam antisipasi perjamuan messianik, atau perjamuan dalam kerajaan Allah) dan cerita tentang sengsara dan kematiannya, memberikan elemen konstitutif bagi swa-definisi komunitas itu sebagai sebuah nation baru, dan klaim-klaimnya terhadap pemenuhan eskatologis bagi harapan-harapan semua bangsa.

Tentu saja kita tahu cerita tentang sengsara dan kematian Yesus itu tetap luwes sampai waktu yang sangat lama. Bukti untuk ini adalah versi-versi yang berlainan tentang naratif sengsara dalam literatur injil, akibat pemeragaan lisan cerita itu dalam perayaan-perayaan ritual. Maksudnya, ketika anda membaca kembali alkitab dalam perayaan ritual, dan kemudian menceritakan kisah tentang kematian Yesus, maka anda akan memperkaya cerita itu dengan informasi skriptual lebih besar—katakanlah,  dengan bahasa skriptual lebih besar. Tetapi pemeragaan lisan itu bermaksud membangun sebuah pernyataan kebenaran yang inklusif mengenai pembentukan sebuah antion baru. Kanonisasi tidak membekukan hanya versi paling mutakhir dari dongeng itu. Itu sangat menarik. Kanonisasi tidak membekukan salah satu versi manapun dari kisah itu. Lebih tepat lagi, kanon empat-injil itu memungkinkan versi-versi yang berlainan berdiri saling berdampingan. Di satu pihak, injil-injil yabng tidak mencakup naratif tentang sengsara dan kematian Yesus tidak dimasukkan kedalam kanon Perjanjian Baru. Saya selalu ditanya mengapa Injil Thomas tidak ada dalam kanon. Well, ucapan-ucapan Yesus tidak ditempatkan di sana karena cerita yang membangun Kristianitas sebagai sebuah nation adalah cerita tentang sengsara, kematian, dan kebangkitan kembali Yesus. Komunitas baru itu hanya bisa dihidupi oleh versi yang ini dari cerita itu, yaitu naratif sengsara, sebuah versi yang menjadi bagian erat dari ritual yang pada dasarnya berakar pada praktek-praktek perjamuan Yesus.

published april 1998

Judul asli: “Story and Ritual in Greece, Rome, and Early Christianity”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/us/copyright/html

Terjemahan: Bern Hidayat, 22 November 2009.

FRONTLINE is a registered trademark of wgbh educational foundation.
web site copyright 1995-2008 WGBH educational foundation

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: