Pontius Pilatus: Gubernur Romawi

27/01/2010

Kekuasaan Pilatus yang besar, yang mencakup “hidup dan mati,” seharusnya sentral bagi cara kita membaca naratif-naratif injil tentang penyaliban Yesus. Pilatus bukan tokoh yang netral, lemah, atau minor. Ia tidak dipaksa menyalib Yesus oleh para pemimpin Yerusalem bertentangan dengan kemauannya sendiri. Ia menyalib Yesus karena melakukan hal itu adalah sesuai dengan kepentingan-kepentingan Roma—dan Pilatus ditugaskan menjaga dan mengembangkan kepentingan-kepentingan itu.

Oleh Warren Carter
Professor of New Testament
Saint Paul School of Theology
Kansas City
September 2004

Kebanyakan pengkajian Kristen kontemporer dan media populer—contoh paling mutaklhir adalah film Passion of the Christ, yang dibintangi oleh Mel Gibson—menghadirkan Pontius Pilatus sebagai seorang tokoh lemah dengan peranan yang sekedar bersifat insidental dalam penyaliban Yesus. Sebagai orang yang tidak bernyali, yang tidak berani tegak melawan para pemimpin Yerusalem yang penuh kebencian itu, ia dengan ogah-ogahan mengijinkan Yesus disalib. Sebagai orang yang tidak mempunyai watak kuat untuk melakukan hal-hal yang benar dan membebaskan orang yang tidak bersalah, Pilatus mengalah pada tuntutan-tuntutan para penguasa Yerusalem agar Yesus dihukum mati.

Tetapi Kredo Kerasulan, yang secara teratur diucapkan di banyak kongregasi, mempunyai pandangan yang berbeda. Kredo itu menempatkan Pilatus dalam peranan sentral dalam kematian Yesus dengan kata-kata “menderita di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan.”

Orang-orang Kristen mempunyai banyak alasan untuk mengabaikan peranan Pilatus. Sebuah tradisi Kristen yang berumur nyaris 2000 tahun menekankan tanggungjawab orang Yahudi atas kematian Yesus.[1] Selain itu, para interpreter Kristen sering membaca Perjanjian Baru di bagian-bagian yang bercerita tentang Pilatus dengan keyakinan bahwa Injil hanya mengurusi masalah-masalah keagamaan, bukan masalah-masalah politis. Pilatus diinterpretasikan enggan terlibat dalam apa yang oleh para interpreter Kristen sering digambarkan sebagai sebuah perselisihan keagamaan. Pilatus harus didorong-dorong agar mengambil tindakan oleh para pemimpin Yerusalem yang hanya mengejar kepentingan keagamaan mereka sendiri.

Sebuah pengkajian mutakhir yang tidak memadai, misalnya, mencerminkan pemahaman-pemahaman yang coreng-moreng itu. penulis Helen Bond menyatakan bahwa presentasi Pilatus oleh Mateus menekankan netralitas politis Pilatus.[2] Ia kemudian menekankan bahwa presentasi Mateus telah menghilangkan semua petunjuk tentang tekanan politis yang datang dari presentasi tersebut.

Tetapi usaha-usaha untuk menutup-nutupi Pilatus dari pandangan, memperkecil tanggungjawabnya, atau bahkan memperkecil identitas politisnya adalah sangat tidak meyakinkan.[3] Beberapa faktor mengisyaratkan bahwa kita tidak boleh terlalu cepat mengabaikan peranan Pilatus. Menggambarkan adegan penjatuhan hukuman itu dari sudut pandang netralitas politik dan tidak adanya tekanan politik berarti sama sekali tidak memahami realita politik dunia kekaisaran Romawi. Adegan-adegan injil yang berlainan itu perlu diinterpretasikan dengan mempertimbangkan informasi historis mengenai dunia itu dan mengenai fungsi-fungsi gubernur Romawi di dalamnya.[4] Komentar-komentar yang tak terhitung jumlahnya mengenai injil-injil sama sekali tidak membahas peranan-peranan strategis dan sangat berkuasa yang dimainkan oleh para gubernur dalam sistem kekaisaran Romawi. Jika informasi ini dimasukkan kedalam proses interpretif itu, Pilatus muncul sebagai sosok sangat berkuasa yang memainkan peranan sentral dalam kematian Yesus. Tindakan Pilatus menjatuhkan hukuman mati terhadap orang udik yang membuat kekacauan menunjukkan bahwa Pilatus sama sekali bukan orang netral, bahwa dinamika politik benar-benar menentukan dalam perkara itu, dan bahwa Pilatus sama sekali bukan orang lemah atau terpaksa.

Terlepas dari hubungannya dengan Yesus sebagaimana tercatat dalam injil-injil, sedikit sekali yang kita ketahui secara langsung mengenai Pilatus. Dua penulis Yahudi abad pertama, Philo dari Alexandria (Embassy to Gaius 299-305) dan Josephus dari Roma (Jewish War 2.169-77; Antiquities of the Jews 18.55-89), hanya menyebut dia secara singkat. Sebuah prasasti yang diketemukan di Caesarea pada 1961 dan beberapa uang koin juga mengacu pada Pilatus. Sumber-sumber itu, bersama ceria-cerita injil, perlu dibaca dalam hubungan dengan gambaran lebih besar mengenai peranan-peranan para gubernur dalam sistem kekaisaran Romawi.

Pilatus adalah gubernur Judea selama tahun 26-37 EB. Penunjukannya sebagai gubernur mengisyaratkan bahwa ia berasal dari keluarga Romawi elit, berkuasa, dan kaya. Keluarganya, dan Pilatus sendiri, barangkali mempunyai hubungan baik dengan kaisar Tiberius. Kisah-kisah Philo serta Josephus mengenai tindakan-tindakan Pilatus, termasuk bagaimana ia menggunakan dana dari Bait Allah Yerusalem untuk membiayai pembangunan sebuah jaringan saluran air, mengisyaratkan bahwa ia sama-sama tidak memiliki kepekaan terhadap adat-istiadat Yahudi, dan itu tipikal pada parasangka-prasangka kaum elit Romawi terhadap orang-orang provinsi.

Para gubernur Roma mempunyai kekuasaan sangat besar sebagai wakil pemerintah Romawi yang opresif. Lima faktor, yang sering diabaikan dalam interpretasi-interpretasi mengenai adegan-adegan dalam injil, menerangi peranan  Pilatus dalam kematian Yesus.

Agama adalah Politik

Dunia Romawi tidak memisahkan politik dari agama. Imam-imam dan kuil-kuil mempunyai peranan-peranan religius maupun sosio-politis. Keluarga-keluarga imam agung beserta sekutu-sekutu mereka di Yerusalem adalah para pemimpin politis di Judea (Josephus, Antiquities 20.251).  Pilatus mewakili sebuah sistem Romawi yang menyatakan diri berasal dari Jupiter dan mengejawantahkan karunia-karunia Jupiter dan para dewa. Politik adalah agama, dan agama adalah politik.

Tidak adanya pemisahan antara politik dengan agama berarti bahwa Pilatus tidak menganggap Yesus sebagai masalah keagamaan “murni.” Yesus menyatakan diri mengejawantahkan kerajaan Allah dan dipahami sebagai seorang raja. Yesus menyodorkan sebuah tantangan non-violent pada kekuasaan Roma yang luas serta kepemimpinan Yerusalem.

Para Gubernur

Para gubernur Romawi mempunyai kekuasaan besar sebagai wakil Roma. Mereka menegakkan kepentingan-kepentingan Roma serta membela tatanan sosial yang bersifat hirarkis. Mereka memegang kendali militer, politis, sosial, yudisial, dan ekonomis, seringkali dengan cara-cara yang eksploitatif dan kasar, demi kepentingan kaum elit.

Kekuasaan Pilatus yang besar, yang mencakup “hidup dan mati,” seharusnya sentral bagi cara kita membaca naratif-naratif injil tentang penyaliban Yesus. Pilatus bukan tokoh yang netral, lemah, atau minor. Ia tidak dipaksa menyalib Yesus oleh para pemimpin Yerusalem bertentangan dengan kemauannya sendiri. Ia menyalib Yesus karena mengambil tindakan itu adalah sesuai dengan kepentingan-kepentingan Roma—dan Pilatus ditugaskan menjaga dan mengembangkan kepentingan-kepentingan itu.

Penyaliban

Yesus mati karena eksekusi yang jelas khas Romawi. Roma biasanya tidak mendelegasikan hak untuk menjatuhkan hukuman mati kepada para pemimpin provinsi. Hukuman mati itu adalah keputusan Pilatus.

Penyaliban dikhususkan untuk para terdakwa yang berstatus rendah, bukan untuk warga negara Romawi dan bukan untuk anggota-anggota elit. Itu dijadikan contoh bagi siapa pun yang mengancam ketertiban sosial Romawi: budak-budak pelarian, orang-orang yang menyerang properti orang kaya dan berkuasa, orang-orang yang melakukan pengkhianatan dengan mengklaim kekuasaan dan pemerintahan yang tidak mendapatkan otorisasi dari Roma. Penyaliban Yesus menunjukkan bahwa ia dipandang oleh elit penguasa sebagai ancaman bagi status quo.

Yesus memproklamasikan “kerajaan Allah.” Kata benda yang diterjemahkan “kerajaan” itu digunakan dalam tulisan-tulisan lain untuk mengacu pada berbagai kekaisaran termasuk kekaisaran Roma. Pengumuman Yesus mengancam kekaisaran Roma dengan sebuah cara tandingan untuk merestrukturisasi dunia. Yesus dianggap mengklaim diri “raja orang-orang Yahudi,” sebuah gelar yang hanya bisa diberikan oleh Roma kepada sekutu-sekutunya yang elit, setia, dan aman. Roma membunuh orang-orang lain yang mengklaim peranan seperti itu tanpa restu Roma. Yesus menyerang Bait Allah Yerusalem, pusat kekuasaan bagi para pemimpin Yerusalem, sekutu-sekutu Roma, dan sebuah institusi penting dalam mempertahankan kekayaan dan kekuasaan maha besar dan tidak merata itu. Yesus bukannya mati sebagai orang miskin, tak bersalah, yang diberi perlakuan yang sekedar keliru oleh Pilatus yang lemah. Yesus mati sebagai sebuah ancaman subversif bagi sistem Roma. Pilatus memutuskan untuk membunuhnya demi kepentingan Roma.[5]

Aliansi-aliansi

Pilatus dan para pemimpin Yerusalem adalah sekutu. Menjalin persekutuan dengan pemimpin-pemimpin lokal adalah sebuah strategi umum yang digunakan oleh Roma untuk memerintah kekaisarannya. Bersama pajak dan kekuatan militer, aliansi-aliansi dengan para elit provinsi adalah cara yang efektif untuk memelihara kendali. Yang mengencangkan aliansi-aliansi aristokratik di bawah kendali Roma itu adalah kepentingan-kepentingan bersama dalam hal kekayaan, kekuasaan, dan status.

Gubernur Roma menunjuk imam-imam agung di Judea. Imam agung Caiaphas adalah seorang tunjukan politis yang memegang kekuasaan atas restu para majikannya di Roma. Tentu saja, ada ketegangan-ketegangan serta pergulatan-pergulatan di dalam aliansi-aliansi itu. Tetapi secara keseluruhan, gubernur Roma dan para pemimpin lokal Yerusalem berusaha keras untuk memelihara sistem kekaisaran Roma di mana sekitar tiga persen dari populasi memerintah demi keuntungan mereka sendiri dengan mengorbankan populasi yang lain.[6]

Memelihara aliansi itu menuntut skill politis yang bagus. Jika para pemimpin Yerusalem memandang Yesus sebagai ancaman bagi kekuasaan mereka, Pilatus tahu betul bahwa ia harus menyikapi keprihatinan mereka dengan sangat serius. Kepentingan-kepentingan mereka adalah kepentingan-kepentingan Pilatus.

Tetapi ada permainan-permainan politis lain yang harus dimainkan. Di satu pihak, Pilatus perlu menjaga agar mereka tetap senang dengan jalan memenuhi permintaan mereka untuk melenyapkan Yesus. Dalam Mateus dan Markus, dia dan para pemimpin Yerusalem bekerjasama memanipulasi massa agar menuntut kematian Yesus, dan dengan demikian mengekspresikan kehendak kaum elit. Pilatus bisa mengeksekusi orang yang mengaku raja sebagai kehendak rakyat tanpa mengkhawatirkan pergolakan dan pembalasan. Di pihak lain, Pilatus perlu menunjukkan pada para pemimpin provinsi bahwa sebagai seorang gubernur Roma, ia adalah atasan langsung mereka dan mereka tergantung pada dia. Kisah Yohanes memberikan penerangan khusus pada dimensi ini di mana Pilatus seolah-olah mengolok-olok mereka karena status mereka yang tergantung dan dengan cerdik membuat mereka mengeluarkan deklarasi kesetiaan pada kaisar (Yoh 19:15). Dalam kisah Lukas, Pilatus membuat mereka mengemis-ngemis agar dia mengeksekusi Yesus sementara berusaha keras agar tidak muncul perpecahan dalam aliansi itu.

“Peradilan” Romawi?

Sistem pengadilan Romawi sering dijalankan atas dasar bahwa hukuman sesuai dengan orangnya. Sebuah bias yang menguntungkan kaum elit dan merugikan orang-orang berstatus rendah ada dalam pelaksanaan “pengadilan” Romawi.[7] Sebagai gubernur, Pilatus melaksanakan pengadilan untuk melindungi kepentingan-kepentingan elit dari gangguan orang rendahan atau provinsial seperti Yesus.

Sebuah adegan dalam Mateus, misalnya, memberikan komentar mengenai bias peradilan ini. Ketika Yesus diserahkan pada Pilatus dalam 27:1-2, naratifnya langsung bergeser ke Yudas. Ayat 3 bab 27 dimulai begini: “Ketika Yudas pengkhianatnya melihat bahwa Yesus dijatuhi hukuman mati. . . .” Pilihan kata kerja di sini sudah sangat jelas. “Pengadilan” belum diselenggarakan, hukuman mati belum dijatuhkan atau diumumkan. Tetapi Yudas menyimpulkan dari penyerahan Yesus kepada Pilatus itu bahwa Yesus sama saja dengan sudah mati. Seperti setiap orang dengan status rendah, Yudas tahu betul bahwa sistem akan memastikan agar Yesus mati.

Tantangan terbesar bagi Pilatus dalam menyalib Yesus datang dari resiko pergolakan dari para pendukung Yesus. Dalam mengeksekusi seorang aspiran raja, Pilatus menghadapi resiko memprovokasi pergolakan sosial dan menggugah mimpi-mimpi tentang kemerdekaan, khususnya pada hari Paskah. Dalam beberapa kisah injil, Pilatus menanyai massa tentang apa yang harus dilakukan pada Yesus. Itu ia lakukan bukan karena ia tidak yakin apakah Yesus raja atau bukan, dan bukan karena ia enggan menjatuhkan hukuman mati pada Yesus. Lebih tepat lagi, ia sedang mengukur berapa besarnya dukungan bagi Yesus. Ia sedang mem-poll massa. Ia menanyai massa untuk mencari tahu seberapa luas dan seberapa solid dukungan bagi Yesus itu.

Dimanipulasi oleh para pemimpin Yerusalem yang bergerak di antara massa dan diintimidasi oleh kekuasaan Pilatus, massa memproklamasikan dukungan bagi tindakan Pilatus. Naratif-naratif injil menunjukkan Pilatus sebagai gubernur yang tajam dan cerdik dalam menjalankan peradilan Romawi.

Dengan demikian, Pilatus mempunyai peranan sentral dalam penyaliban Yesus. Kematian Yesus terjadi dengan cara-cara yang tipikal dari kontrol kekaisaran Romawi. Sebagai gubernur Roma yang tajam, cerdik, dan berkuasa, Pilatus bekerja dengan sekutu-sekutunya, para pemimpin Yerusalem, untuk melenyapkan ancaman terhadap kekuasaan mereka dan terhadap visi sosio-politis mereka.

Judul asli: “Pontius Pilate: Roman Governor”

Sumber: http://www.bibleinterp.com/articles/indeks/html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 1 Desember 2009

Baca juga: Pilatus, Politik Roma, dan Politik Evangelis

Pandangan yang berbeda tentang Pontius Pilatus bisa dibaca dalam esei Anthony J. Tomasino,  Konflik Antar-Yahudi dan Sengsara Yesus


[1] Pilatus adalah sosok yang kontroversial bagi orang-orang Kristen purba di abad-abad setelah injil-injil ditulis. Beberapa orang Kristen memperluas cerita-cerita injil dan membangun tradisi-tradisi yang lumayan beda mengenai Pilatus. Dalam mengampuni Pilate dari setiap tanggungjawab atas kematian Yesus, sayangnya mereka sering menimpakan kesalahan lebih besar pada para pemimpin Yahudi.

  • Pilatus si Penjahat. Tradisi-tradisi ini menyatakan bahwa Pilatus dijatuhi hukuman pengasingan, hukuman mati (ada yang mengatakan dipanah, ada yang mengatakan ditenggelamkan) atau bunuh diri.
  • Pilatus si orang Kristen. Sebuah tradisi menceritakan bagaimana Yesus yang telah bangkit menampakkan diri pada Pilatus dan memberkatinya atas peranan yang diambilnya dalam penyaliban itu.
  • Santo Pilatus. Gereja Ethiopia kuno menghormati Pilatus dengan sebuah hari pesta pada tanggal 19 Juni.
  • Martir Pilatus. Sebuah tradisi lain menceritakan kisah yang mustahil tentang Kaisar Tiberius memerintahkan kematian Pilatus karena ia menyalib Yesus. Sebelum kepalanya dipenggal, Pilatus berdoa kepada Yesus yang telah naik surga untuk memohon pengampunan. Ketika Pilatus dipenggal, seorang malaikat turun untuk menerima kepalanya.

Teks-teks itu bisa diperoleh dari J. K. Elliott, The Apocryphal New Testament (Oxford: Clarendon Press, 1993) 164-225.

[2] H. Bond, Pontius Pilate in History and Interpretation (SNTSMS 100; Cambridge: Cambridge University Press, 1998) 129-38, khususnya 133, 136.

[3] Argumen berikut ini diketengahkan dalam W. Carter, Matthew and Empire: Initial Explorations (Harrisburg: Trinity Press International, 2001) 145-68; W. Carter. Pontius Pilate: Portraits of a Roman Governor (Collegeville: Liturgical Press, 2003); juga Carter, Matthew and the Margins: A Sociopolitical and Religious Reading (Maryknoll: Orbis, 2000) 521-29.

[4] Lihat, misalnya, esei-esei yang relevan dalam P. Brunt, Roman Imperial Themes (Oxford: Clarendon, 1990) 53-95, 163-87, 215-54.

[5] Adakah hubungan antara klaim Kristen bahwa “dosa-dosa kita lah yang menyalibkan Yesus” dengan peranan aktif Pilatus dalam membuat Yesus disalib?

Adalah penting untuk mengenali bahwa ada dua cara berpikir yang sangat berbeda mengenai penyaliban Yesus. Bicara tentang peranan Pilatus berarti membuat sebuah analisa historis mengenai mengapa Yesus mati. Pernyataan itu muncul dari riset dan penyelidikan historis. Fokusnya adalah pada alasan-alasan historis yang menyebabkan kematian Yesus. Analisa itu menyelidiki personil dan proses-proses yang menyebabkan kematiannya.

Mengatakan bahwa “dosa-dosa kita lah yang menyalibkan Yesus” adalah klaim yang sangat berbeda. Pernyataan itu menyodorkan sebuah penjelasan teologis mengenai makna kematian Yesus. Pernyataan itu muncul dari iman yang memahami makna kematian Yesus dengan cara tertentu. Pernyataan itu menginterpretasikan kematian Yesus bukan sebagai sebuah peristiwa historis yang menarik, melainkan sebagai sebuah peristiwa yang mempunyai makna religius personal bagi tradisi tertentu.

Meskipun begitu, adalah mungkin untuk menghubungkan kedua perspektif itu. Dalam hubungan dengan klaim kedua, tindakan-tindakan Pilatus sebagai gubernur Romawi bisa dipandang sebagai contoh tentang dosa macam apa saja yang bisa membuat Yesus mati. Pilatus menolak klaim Yesus untuk mewakili pemerintahan atau tujuan-tujuan Tuhan. Pilatus mendapatkan klaim-klaim Yesus sebagai raja mengancam struktur-struktur kemasyarakatan yang dijaga oleh Pilatus, sekalipun struktur-struktur itu sangat tidak adil. Pilatus memimpin sebuah struktur kemasyarakatan yang oleh Injil-injil dinyatakan sebagai bertentangan dengan tujuan-tujuan Allah (lihat Mateus 20:24-28).  Pilatus mengekspresikan penolakannya terhadap tujuan-tujuan Allah dan peranan Yesus itu dengan  menyalib Yesus. Orang-orang Kristen memahami dosa dengan berbagai cara, termasuk penolakan personal dan sistemik terhadap tujuan-tujuan Allah bagi sebuah dunia yang adil dan yang memberikan kehidupan bagi semua orang, sebagaimana terwahyukan dalam Yesus.

[6] Lihat J. Kautsky, The Politics of Aristocratic Empires (Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1982); G. Lenski, Power and Privilege; A Theory of Social Stratification ((Chapel Hill: University of North Carolina Press, 1984) 189-296; lihat juga ulasan, Carter, Matthew and Empire, 9-53.

[7] P. Garnsey, Social Status and Legal Privilege in the Roman Empire (Oxford: Clarendon Press, 1970).

rave

[5] Brown, The Death of the Messiah, 458.

[6] Brown, The Death of the Messiah, 328-97.

[7] Brown, The Death of the Messiah, 358.

[8] Brown, The Death of the Messiah, 399, 408-28 dan lain-lain.

[9] Brown, The Death of the Messiah, 425, 557-60.

[10] Brown, The Death of the Messiah, 560.

[11] Brown, The Death of the Messiah, 434-60.

[12] V. Eppstein, “The Historicity of the Gospel Account of the Cleansing of the Temple,” ZNW 55 (1964) 42-58.

[13] B. Mazar, “The Royal Stoa in the Southern Part of the Temple Mount,” Proceedings of the American Academy for Jewish Research 46-47 (1979-80) 381-86; The Temple of the Lord (Garden City: Doubleday, 1975) 126.

[14] Galilean Rabbi and His Bible: Jesus’ Use of the Interpreted Scripture of His Time (Good News Studies 8; Wilmington: Glazier, 1984) 17-18; The Temple of Jesus. His Sacrificial Program Within a Cultural History of Sacrifice (University Park: The Pennsylvania State University Press, 1992) 91-107; A Feast of Meanings. Eucharistic Theologies from Jesus through Johannine Circles: Supplements to Novum Testamentum 72 (Leiden: Brill, 1994), 46-74.

[15] C. A. Evans, “Jesus and the ‘Cave of Robbers’: Towards a Jewish Context for the Temple Action,” in Evans, Jesus and His Contemporaries: Comparative Studies (AGJU 25; Leiden: Brill, 1995) 345-65 (sebuah artikel yang terbit pada 1993).

[16] Brown, The Death of the Messiah, 520-47.

[17] Lihat, misalnya, V. Taylor, The Gospel according to St. Mark (London: Macmillan, 1966 [1st ed., 1952]), setiap kali istilah “authority” (exousia) muncul, misalnya dalam Markus 1:22.

[18] Brown, The Death of the Messiah, 473-80.

[19] Lihat Paula Fredricksen, Jesus of Nazareth, King of the Jews. A Jewish Life and the Emergence of Christianity (New York: Knopf: 1999) dan wawancara dalam Bible Review 16.4 (August, 2000) 54-58.

[20] Brown, The Death of the Messiah, 520-27.

[21] Sebuah diskusi mengenai kebijaksanaan-kebijaksanaan ini tersedia dalam Trading Places. The Intersecting Histories of Judaism and Christianity (bersama Jacob Neusner; Cleveland: Pilgrim, 1996; juga Eugene: Wipf and Stock, 2004).

[22] Lihat “James and the (Christian) Pharisees,” When Judaism and Christianity Began. Essays in Memory of Anthony J. Saldarini I. Christianity in the Beginning: Supplements to the Journal for the Study of Judaism 85 (eds. A. J. Avery-Peck, D. Harrington, J. Neusner; Leiden: Brill, 2004) 19-47.

[23] Untuk pembahasan mengenai hal-hal ini, lihat Rabbi Paul. An Intellectual Biography (New York: Doubleday, 2004).

Sumber:  http://www.bibleinterp.com/articles/index.html.

Terjemahan: Bern Hidayat, 25 November 2009

Baca juga: Pontius Pilatus—Gubernur Romawi

n”‘$BU(ULegitimization under Constantine”

Sumber:  http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline

Terjemahan: Bern Hidayat, 9 Oktober 2009

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: