Orang-orang Yahudi dan Kekaisaran Romawi

27/01/2010

Ketegangan yang semakin memuncak antara orang-orang Yahudi dengan Roma meledak dalam dua pemberontakan yang semakin memperdalam jurang pemisah antara orang-orang Yahudi dengan orang-orang Kristen.

Holland Lee Hendrix:

President of the Faculty, Union Theological Seminary

PENYEBARAN KEKAISARAN ROMAWI

Kekaisaran Romawi berkembang dalam jangka waktu panjang dari sebuah unit politik dasar di Italia sampai ke seluruh penjuru kawasan Laut Tengah, tetapi itu membutuhkan waktu yang sangat lama. . . . . Itu berkembang dari sejumlah dinamika yang berlainan, yang jelas melalui penyerbuan, melalui penaklukan, tetapi juga melalui undangan dan bahkan permohonan kepada Roma sendiri; yang  jelas bagian timur dari apa yang kemudian berkembang menjadi kekaisaran itu secara aktif meminta kehadiran pasukan Romawi dan mencari otoritas politis yang kuat dan stabil dan mendapatkan otoritas itu di Roma. . . . .

Kita bisa mengatakan, ujung tombak ekspansi Roma itu berbasis militer  maupun ekonomis. Kita mendapatkan banyak bukti yang menceritakan pada kita tentang para kapitalis pengusaha Romawi yang  berkiprah di pinggiran wilayah perekonomian Romawi, yang mulai membangun kekaisaran ekonomis kecil-kecilan mereka, dan dalam beberapa kasus kekaisaran ekonomis yang lebih besar, yang mendatangkan pemerintahan Romawi bersama mereka. Kenyataannya, di beberapa kota Laut Tengah bagian timur, para pengusaha Romawi membentuk unit-unit sosial secara aktual, unit-unit politis di kota-kota Yunani. Itu kemudian berkembang menjadi networks yang kemudian diikuti oleh kekuatan politis. Jadi dari aktivitas ekonomis dan militer yang menyebar keluar dari Italia, kekaisaran itu menyebar ke seantero Afrika Utara, ke Barat bablas sampai ke Inggris, ke timur bablas sampai Syria timur, dan itu mencakup seluruh Yunani, seluruh Turki, kawasan Palestina yang berada di bawah Syria. Seluruh kawasan Laut Tengah secara efektif di bawah kekuasaan Romawi.

L. Michael White:

Professor of Classics and Director of the Religious Studies Program University of Texas at Austin

JUDEA DAN KEKAISARAN ROMAWI

Cara Kekaisaran Romawi berkembang, adalah dengan secara bertahap mengambil-alih wilayah demi wilayah di kawasan timur Laut Tengah. Beberapa dari kawasan itu diperintah sebagai provinsi. Anda bisa membayangkan Kekaisaran Romawi secara bertahap mengambil alih kawasan demi kawasan ketika mereka melakukan penaklukan dan secara progresif bergerak ke timur. Afrika Utara, Mesir, Asia Minor, yang sekarang disebut Turki, Syria. Dan, secara bertahap, mereka juga menaklukkan Judea. Dalam proses itu, mereka menempatkan beberapa wilayah sebagai provinsi, dan beberapa sebagai kerajaan taklukan. Judea kebetulan termasuk di antara kerajaan-kerajaan klien yang diperintah oleh rajanya sendiri yang independen, atau semi-independen. Inilah orang yang kita kenal sebagai Herodes Agung itu.

Bagi orang-orang biasa negeri Yahudi, Roma merupakan faktor politis dominan. Sekalipun mereka mungkin tidak setiap hari melihat orang-orang Romawi, pemaksaan kekuasaan Roma jelas terasa betul. Dalam hal kerajaan taklukan, Judea, pemerintahan Herodes dan pasukan Herodes adalah entitas politisnya. Tetapi setiap orang tahu bahwa Roma adalah kekuatan yang ada di belakang raja. Setiap orang tahu bahwa Roma adalah sumber dari kekayaan maupun sumber segala macam masalah yang terjadi di negeri orang Yahudi itu. Jadi realita politik masa itu adalah realita yang diwarnai oleh kekuasaan dominan yang mengawasi kehidupan sehari-hari.

PRASASTI  PILATUS DI CAESAREA

Di Caesarea, mereka juga menemukan sebuah balok batu dengan nama Gubernur itu tertoreh di atasnya. Tolong ceritakan kisahnya. Apa yang bisa diceritakan oleh prasasti itu tentang politik dan masyarakat waktu itu?

Yes, prasasti itu, yang ditemukan di Caesarea Maritima, yang mengacu pada Pontius Pilatus, adalah salah satu penemuan arkeologis terpenting dalam dua dekade terakhir ini. Karena ia adalah bukti keras pertama tentang eksistensi Pontius Pilatus. Nah, untuk Pilatus, tentu saja, kita mempunyai sejumlah referensi kesastraan, baik dalam sejarawan Yahudi Josephus itu dan juga di antara injil-injil Kristen. Tetapi ini adalah bukti langsung pertama dari sebuah sumber arkeologis yang secara aktual memberikan namanya pada kita dan menyatakan pada kita bahwa dia berada di sana sebagai Gubernur. Kota Caesarea Maritima sebenarnya adalah tempat kediaman Gubernur. Itulah ibukotanya, dari perspektif administrasi politis Romawi. Jadi pasti di sana pula Pontius Pilatus tinggal, di mana ia menyelenggarakan pengadilan-pengadilannya.

Dan apa pula itu artinya, sebab jika Herodes berkuasa atas kota itu, jika Herodes menjadi raja kliennya, apa yang dikerjakan Pilatus di sana?

Herodes berkuasa dari tahun 37 SEB sampai 4 SEB. Masa pemerintahan yang cukup panjang hanya dari perspektif politis. Tetapi pada saat dia mati, kerajaannya, yang merupakan kerajaan terbesar sejak Daud dan Solomon—betul itu—kemudian dipecah-pecah di antara tiga anak lelakinya. Satu anak, Herodes Antipas, mengambil wilayah utara Galilei dan wilayah di sisi timur Sungai Jordan. Anak lelaki yang lain, Filipus, mengambil wilayah di timur Laut Galilei. . . . . wilayah yang sekarang disebut Dataran Tinggi Golan, ditambah wilayah yang lumayan luas lebih ke sana lagi. Anak yang ketiga, Archelaeus, mengambil bagian yang terbesar, dan kenyataannya bahkan kota-kota terbesar. . . . . Nah, kawasan ini, yang boleh kita sebut Judea, sebenarnya adalah wilayah yang paling penting dari ketiga subdivisi tadi. Tetapi berbeda dari kedua saudaranya yang lain, kinerja Archelaeus ternyata tidak sebaik bapaknya. Dan dalam waktu sepuluh tahun ia digeser oleh majikannya, orang-orang Roma itu, dan digantikan dengan para gubernur militer. . . . . yang biasanya kita sebut Procurator, atau Prefect, yang ditempatkan di sana oleh pemerintah Roma untuk mengawasi aktivitas-aktivitas politis negeri itu.

Pontius Pilatus adalah salah satu dari gubernur pertama yang silih berganti ditempatkan si provinsi Judea, setelah daerah itu dimasukkan di bawah pemerintahan gubernur militer Romawi. Dan prasasti batu yang kita temukan di Caesarea itu sangat penting. . . . Itu memberi kita tiga potong informasi penting. Pertama, prasasti itu menceritakan bahwa Pontius Pilatus adalah Gubernur. Kedua, prasasti itu menyebutnya Prefect. Itulah yang kita lihat dalam baris ketiga teks itu. Ketiga, dan dalam beberapa hal yang paling menarik, baris yang pertama menceritakan pada kita bahwa Pilatus telah mendirikan sebuah Tibereum. Itu kuil untuk Kaisar Tiberius, sebagai bagian dari Kultus Kaisar. Nah, ini dia, di Caesarea Maritima, seorang Gubernur Romawi membangun sebuah kuil untuk menghormati Kaisar Roma.

Paula Fredriksen:

William Goodwin Aurelio Professor of the Appreciation of Scripture, Boston University

HERODES DAN BAIT ALLAH

Tolong ceritakan sedikit tentang Herodes Agung sebagai seorang manusia. Maksud saya, dia orang yang berambisi besar. Orang macam apa dia?

Herodes Agung barangkali adalah salah satu raja terbesar dari periode pasca-Alkitab di Israel, tetapi anda tidak ingin punya menantu seperti dia. Dia ambisius, brutal, sangat sukses; ia tidak sudi menerima oposisi apapun, entah dengan keluarganya sendiri maupun dalam politik. Dia . . . . . jenius—seorang self-made man. Berkat koneksi-koneksi politis bapaknya, ia bisa menikah dengan wanita dari keluarga yang berkuasa di Judea. Dan di bawah pemerintahannya Israel pasca-Alkitab mencapai puncak politis dan materiil di masa-masa awal Kekaisaran Romawi. Herodes adalah seorang raja klien yang sukses, dan itu berarti selama ia membayar upeti kepada Roma dan berada di pihak yang tepat dari setiap pergolakan yang terjadi di Roma, ia bisa melindungi kebebasan dan kemerdekaan politis orang-orang Yahudi di Israel. Dan . . . . itu ia lakukan dengan sangat baik. Ia juga mengiklankan kesuksesan dan kekayaan rejimnya sendiri dan arti penting rakyatnya dengan melaksanakan program pembangunan yang luar biasa ambisius. . . . . beberapa dari bangunan-bangunan paling indah yang sampai sekarang masih ada di Israel dibangun di bawah Herodes. Tentu saja, warisan arsitektural yang membuat namanya dikenang terus adalah apa yang iakukan dengan Bait Allah di Yerusalem.

Mengapa Herodes ingin membangun Bait Allah? Apa arti Bait Allah baginya?

Bait Allah di Yerusalem bersifat simbolik, dan, dalam arti tertentu, ia adalah jantung politis negeri itu. . . . . Tetapi dengan membangun bait Allah, Herodes menorehkan namanya sendiri dalam sejarah Israel. . . . . Dengan membangun Bait Allah. . . . secara bertahap menyempurnakannya. . . . menjadikannya luar biasa besar dan bahkan menjadi salah satu dari pesona arsitektural terbesar di dunia kuno, dia tidak hanya meningkatkan gengsi agama Yudaisme secara besar-besaran, tetapi juga—jika sejarah politik dipandang sebagai sejarah pembangunan real estate— dia memungkinkan Judea memiliki keseimbangan perdagangan yang positif. Yerusalem, pada waktu itu maupun sekarang juga, merupakan salah satu pusat turisme besar. Bukan hanya turisme Yahudi, tetapi juga orang-orang non-Yahudi akan datang ke Yerusalem. . . . . . Untuk melukiskan visi Herodes mengenai Bait Allah itu, lihat saja sebuah bandar udara, atau sebuah gereja, atau sesuatu yang seperti itu. Ia menciptakan,  secara arsitektural, sebuah ruang yang bisa mengakomodasi sejumlah besar pejiarah dan turis dan orang-orang lain yang tertarik. Dan dengan melakukan hal itu, ia sama saja dengan melontarkan sebuah pernyataan keras. Tidak hanya tentang negerinya sendiri, tetapi juga tentang Allah orang Israel.

Eric Meyers:

Professor of Religion and Archaeology Duke University

PENGARUH  HERODES AGUNG

Saya bisa mengatakan tanpa ragu-ragu sedikit pun, tidak ada satu orang pun sepanjang sejarah Yahudi yang mempunyai pengaruh lebih besar pada kebudayaan materiil dan kemegahan Palestina ketimbang Herodes Agung. Rencana pembangunannya sangat ambisius, jauh melebihi perkiraan orang banyak, nyaris mustahil dipercaya. Dan kemampuannya untuk mengerahkan sumber-sumber lokal maupun sumber-sumber  asing untuk menopang program bangunan-bangunan publiknya adalah tak tertandingi. Dan ini sangat menarik karena dia orang yang sangat kejam, orang yang sangat jahat dalam banyak hal, tetapi dia seorang pengatur strategi yang brilyan, dan politikus yang brilyan. Dan program bangunan-bangunan publiknya—apalagi itu dilakukan setelah gempa bumi besar tahun 31 SEB—merupakan satu cara untuk mempersatukan aneka macam komunitas bersama-sama di Palestina. Ia menyatukan orang-orang Farisi dengan orang-orang Essenes dan segala macam orang. Bangunan-bangunan publiknya benar-benar menyatukan anggota masyarakat. Dan adalah salah satu ironi nyata yang tidak pernah diceritakan dalam sejarah Yahudi bahwa orang ini, orang yang anda benci dalam sejarah Yahudi itu, sebenarnya menorehkan tanda yang mustahil dihapuskan di tanah Israel. Entah itu tembok barat atau Bait Allah itu sendiri, dengan segala kemegahannya, atau amphitheater besar di Caesarea, atau pelabuhan di Caesarea—semua monumen megah itu adalah buah karyanya dan buah kerjasamanya dengan bangsa-bangsa pribumi setempat maupun sponsor-sponsor asing.

L. Michael White:

KETEGANGAN-KETEGANGAN DI JUDEA DI MASA KELAHIRAN YESUS

Dapatkah anda melukiskan situasi di Judea pada waktu kelahiran Yesus?

Well, hal pertama yang saya ingin katakan mengenai situasi Judea di masa kelahiran Yesus adalah bahwa Judea waktu itu adalah sebuah ekonomi yang sedang berkembang dengan sangat pesat. Itu adalah sebuah dunia baru berkat kedatangan Roma, dan karena pencapaian-pencapaian pemerintahan Herodes. Tetapi pada saat yang sama, pencapaian-pencapaian itu sendiri membuahkan beberapa ketegangan. Barangkali paling baik kita membayangkannya sebagai dua poros yang saling bertemu. Yang pertama adalah serangkaian ketegangan-ketegangan religius, banyak di antaranya terfokus ke Bait Allah. Bait Allah adalah pusat kontinuitas, pusat devosi, tetapi pada saat yang sama Bait Allah juga bisa menjadi pusat kontroversi agama dan harapan-harapan apokaliptik atau identitas sektarian. Seperti yang kita lihat . . . . di Qumran, di antara Gulungan-gulungan Kitab Laut Mati.

Di sisi lain, ada ketegangan politis dan sosio-ekonomis yang kita lihat tercermin dalam maraknya kejahatan sosial. Kita ingat bahwa Josephus menyebutkan lebih dari satu lusin bandit  pemberontak, seperti Yudas dari Galilei dan Si Orang Mesir. Sejak jaman Herodes, sampai jaman pemberontakan Yahudi pertama. Dan setidak-tidaknya, menurut Josephus, ada suatu kegelisahan politis yang semakin meningkat setiap kali orang-orang itu muncul.

Nah, ketegangan politis itu juga dikobarkan oleh ide-ide dan harapan-harapan keagamaan. Dan sekali lagi, di sini, Yerusalem dan Bait Allah kadang-kadang menjadi titik pertemuan ide-ide mereka.

PEMBERONTAKAN PERTAMA TAHUN 66

Situasi di Yerusalem . . . . menjadi semakin tegang sepanjang pertengahan tahun 60an. Ini adalah periode peningkatan ketegangan menjelang meledaknya pemberontakan pertama melawan Roma. Perang itu meledak pada tahun 66, tetapi Josephus bercerita pada kita bahwa selama beberapa tahun sebelum itu, setidak-tidaknya dari tahun 60, ada ketegangan yang semakin meruncing yang menyangkut beberapa gubernur terakhir di pedalaman. Josephus bercerita pada kita bahwa gubernur-gubernur itu adalah pejabat negara yang benar-benar korup dan semena-mena. . . . merampok rakyat. . . . untuk menggemukkan kantong pribadi mereka sendiri. Josephus juga bercerita bahwa ada sumber ketegangan lain yang semakin memperburuk suasana di pedesaan, karena waktu itu ada bandit dan pemberontak yang jumlahnya semakin meningkat, dan yang kebanyakan berasal dari tukang kayu di pedesaan—jadi ada bandit-bandit yang jumlahnya semakin membesar, dan ada gerakan Zealot yang bertekad memberontak, dan kemudian ada korupsi di pemerintahan, jadi situasi di Yerusalem menjadi sangat, sangat, tegang. Memasuki tahun 66 ketegangan itu meledak menjadi pemberontakan Yahudi skala penuh terhadap Roma.

Ada diceritakan tentang kasak-kusuk bahwa ketika terjadi sebuah huru-hara di kota Caesarea, gubernur Romawi menuntut pembayaran ganti rugi. Rupanya penduduk Caesarea yang Yahudi marah karena masalah hubungan dengan tetangga-tetangga mereka yang non-Yahudi dan telah melakukan perusakan massal. Gubernur menginginkan agar mereka membayar ganti rugi. Ketika mereka menolak, gubernur pergi ke Yerusalem dan menuntut agar uang ganti rugi itu dibayarkan dari gedung bendahara Bait Allah, dan itulah percikan yang meledakkan pemberontakan pertama. Sialnya gubernur tidak mempertimbangkan tingkat sentimen rakyat yang sebenarnya semakin meruncing. Ia kira ia bisa menggertak hanya dengan segelintir pasukan, dan ia dengan cepat berhasil diusir keluar kota. Ketika ia memanggil pasukan bantuan dan berusaha menyerbu Yerusalem lagi, pasukannya dibokong di tengah jalan sampai kocar-kacir, dan rupanya para pemberontak Yahudi itu mengira itu adalah pertanda bahwa Tuhan siap membebaskan mereka dari penindasan Romawi, bahwa inilah saat datangnya kerajaan Allah, dan karena itu letupan kecil itu dengan cepat meledak menjadi pemberontakan terbuka skala besar yang melanda seluruh negeri.

Perang itu, yang berlangsung dari tahun 66 sampai 70. . . . terbagi menjadi dua fase. Dalam fase pertama, sebagian besar aksi militer terbatas di Wilayah Utara, di Galilei sendiri. Nah, di sinilah kita menjumpai Josephus untuk pertama kalinya, karena bahkan meskipun umurnya masih muda, ia diserahi komando atas pasukan Galilei dan memimpin mereka ketika Jenderal Roma Vespasian, yang tak lama kemudian akan  menjadi kaisar berikutnya, memimpin pasukan untuk menduduki Galilei dan memadamkan pemberontakan itu. Pada dasarnya Vespasian memutuskan untuk membagi negeri itu menjadi potongan-potongan. Membersihkan Utara dahulu, baru kemudian bergerak ke Selatan. Yerusalem adalah sasaran utamanya, tetapi ia ingin terlebih dulu mengisolasi Yerusalem sebelum berusaha merebutnya.

Tetapi memasuki tahun 68 terjadi sesuatu dalam politik Roma. Kaisar Nero dibunuh, dan yang terjadi berikutnya adalah sebuah perang saudara selama satu tahun di Roma ketika tiga orang yang berlainan menyatakan diri sebagai kaisar. Gangguan dalam kontinuitas politis di Roma itu berarti bahwa perang juga dihentikan untuk sementara, dan akibatnya pasukan pemberontak Yahudi mendapatkan kesempatan untuk bernafas. Sekali lagi mereka rupanya mengira hal itu adalah pertanda pembebasan ilahi, bahwa Tuhan akhirnya betul-betul membunuh kaisar yang tengah berusaha menindas mereka. Jadi sebenarnya suasana perang dibuat menjadi sedikit tambah panas setelah kematian Nero. Vespasian akhirnya ditarik pulang ke Roma dan dijadikan kaisar. Anak lelakinya, Titus—yang beberapa tahun kemudian akan menggantikan ayahnya sebagai kaisar Roma—diserahi tugas memimpin pasukan. Titus itulah yang kemudian bergerak untuk mengepung Yerusalem dan akhirnya mengakhiri perang pada tahun 70.

PENGEPUNGAN YERUSALEM

Pengepungan Yerusalem adalah sebuah kisah sedih. Josephus bercerita pada kita tentang beberapa dari kejadian-kejadian waktu itu, dan detil-detilnya yang menyesakkan. Josephus melukiskan bagaimana ia berjalan keliling benteng kota Yerusalem dan membujuk orang-orang di dalam benteng untuk menyerah daripada harus menjalani kesengsaraan yang akan datang akibat pengepungan yang berkepanjangan. Josephus juga bercerita pada kita bahwa banyak terjadi pertempuran antar-faksi di dalam kota itu sendiri antara faksi pemberontak yang menduduki bagian-bagian yang berlainan di Yerusalem. Nyawa yang melayang merupakan bencana besar bagi populasi Yahudi secara keseluruhan.

Selama dua tahun Yerusalem dikepung. Kelaparan, penyakit, pembunuhan adalah kejadian sehari-hari. Akhir kata, memasuki bulan Agustus tahun 70, nasib Yerusalem sudah pasti. Pasukan Romawi telah memasang ketopong mereka. Mereka siap menjebol benteng kota. Setiap orang mengetahui hal itu. masalahnya tinggal kapan, tetapi mereka bertekad bertempur sampai mati, dan banyak dari mereka memang mati. Jadi pada pagi yang mengenaskan itu pasukan Romawi menjebol benteng. Josephus bercerita panjang lebar bagaimana mereka menjebol tembok-tembok. Tentara Romawi berlarian sepanjang jalan-jalan. Memasuki setiap rumah. Membunuh siapapun yang mereka temukan.

Itu adalah pembantaian yang sangat mengenaskan dan kita mendapatkan banyak bukti mengenai hal itu sekarang dari artefak-artefak yang diketemukan dan yang cerai-berai di seluruh penjuru lapisan yang ini dari rekaman arkeologis itu. Anak panah, tombak, segala macam petunjuk pertempuran satu lawan satu  di semua bagian kota. Bagian hilir Yerusalem sampai sekarang ini tetap tidak dihuni orang, tetapi dari jaman Yesus sampai pada saat pertempuran itu, bagian itu adalah bagian yang paling padat penduduknya di Yerusalem. Tapi dalam pemberontakan pertama itu, di jam-jam terakhir pertempuran itu, bagian itu dibakar habis sampai rata tanah.

RUMAH GOSONG

Salah satu dari contoh-contoh paling mutakhir yang banyak berbicara berasal dari arkeologi. Sesuatu yang diberi nama “rumah gosong” yang sebenarnya menunjukkan pada kita salah satu dari rumah-rumah yang dibakar . . . . perabot rumah tangga dan alat-alat dapur di sini, dengan lapisan abu dan residu pembakaran, masih cukup jelas. Dan kita harus memikirkan hal ini sebagai trauma maha besar dari sejarah Yahudi, dalam kejiwaan orang Yahudi waktu itu. Yerusalem, kota kudus. Bait Allah, pusat kesalehan dan identitas, telah lenyap, dan mereka harus bertanya pada satu sama lain, “Bagaimana Tuhan tega membiarkan hal ini menimpa kita? Apa salah kita?”

Impak kehancuran Yerusalem sebenarnya sangat penting bagi seluruh sejarah Yahudi. Kita harus membayangkan seluruh populasi Yudea. Penduduk daerah Selatan itu, dan khususnya kota Yerusalem itu sendiri, benar-benar dipaksa pergi akibat hancurnya kota itu. Rupanya kehancuran Yerusalem pada tahun 70 memaksa perpindahan populasi secara besar-besaran dari Selatan ke Utara. Dalam generasi-generasi masa kemudian, pusat utama populasi Yahudi bergeser ke Galilei. Bukan lagi daerah Yudea Selatan. Jadi ketika kita memikirkan Yerusalem dalam jam-jam terakhir pertempuran itu, kita harus membayangkan arus pengungsi yang melarikan diri dari kota itu, dan sementara mereka menoleh ke belakang menyaksikan Bait Allah ditelan api. Asap naik ke cakrawala, dan mereka bertanya-tanya pusat kepercayaan mereka nanti apa, setelah rumah Tuhan itu diratakan dengan tanah. . . . .

Ketika mereka menoleh ke belakang. . . . ketika asap naik ke cakrawala dari arah Bait Allah. . . . mereka mungkin teringat pada kata-kata mazmur, “Di pinggir sungai Babylon, di sana kita duduk, dan menangis mengenang Zion.” Itu adalah mazmur dari penghancuran [Bait Allah] pertama, di jaman pengasingan Babylon, tetapi pada saat pemberontakan melawan Roma itu, mazmur itu mustinya menjadi refrain yang mencekam mengenai apa yang terjadi ketika Bait Allah lenyap. Ketika orang-orang itu merasa bahwa Tuhan telah meninggalkan mereka, atau mungkin itu kesalahan mereka sendiri. . . . .

Eric Meyers:

TRAGEDI  MASADA—BUNUH  DIRI?

Lihat chart : Benteng Masada dan kepungan pasukan Romawi.

Ketika orang-orang Romawi menyerang warga Yahudi di daerah pantai Caesarea, wilayah kantor-kantor administratif mereka pada tahun 64, terjadi kemarahan dan perlawanan besar-besaran di antara komunitas Yahudi itu terhadap pasukan pemerintah Romawi yang angkuh. Kejadian inilah yang sebenarnya mengawali perang itu, yang pecah empat tahun kemudian, dan mengakibatkan bencana kota Yerusalem dibakar dan diratakan dengan tanah pada tahun 70.

Karang Masada, salah satu dari tempat-tempat paling gemilang di seluruh Israel, menjadi tempat pengungsian besar bagi beberapa elemen paling ekstrim yang menentang Roma. Orang-orang zealot, dan para pendukung mereka yang paling bersemangat, lari persis di tengah peperangan—66, 67, 68—ke Masada, di mana lebih dari 600 orang tinggal. . . . . dalam kemegahan tempat yang indah itu untuk meneruskan hidup sia-sia yang berakhir dengan menyedihkan itu.

Jika kita melihat situs Masada dan mengamati puing-puing di sana, kita bisa melihat di sisi utara ada sebuah istana tiga-tataran yang megah. Di situlah Herodes dan para pengikutnya dulu tinggal, dan mereka mendapatkan angin semilir siang yang sejuk, sebuah tempat yang benar-benar indah. . . . Di keempat sudutnya, di seluruh pinggiran karang itu, ada sebuah tembok. Dan di situ sebagian besar oang zealot mendirikan sebagian besar rumah mereka ketika mereka memukimi kembali tempat itu setelah kehancuran Yerusalem pada tahun 70. Ada kamar-kamar gudang besar di tengah-tengah karang. . . . penuh dengan makanan dan senjata. . . . Dan anda mendapatkan satu istana lagi, dan bahkan  tandon air bawah tanah yang sangat besar, seukuran lapangan football Amerika, sehingga air bisa tersedia di tempat terpencil itu. di situ orang-orang Zealot tinggal selama hampir empat tahun setelah kekalahan Yerusalem. Dan dari ketinggian itu mereka bisa mengawasi enam perkemahan pasukan Romawi yang mengepung mereka. . . . .

Itu dulu adalah tempat pengungsian bagi Herodes, dan sekarang menjadi tempat pengungsian yang lebih besar lagi bagi orang-orang Zealot setelah perang itu, meskipun perang itu sudah berakhir pada tahun 70, tanggal 9 bulan Ab, kurang lebih di bukan Juli. Jadi mereka jalan terus, dan mereka membangun gubug-gubug kecil di tembok-tembok benteng, dan mereka membangun tempat-tempat hunian kecil lain dalam renik-pernik kemegahan Herodes. Dan mereka mengawasi Flavius Silva membangun sebuah ram di tebing barat, yang semakin lama semakin mendekati puncak gunung. Itu membutuhkan waktu lama, dan ada enam kemah pasukan Romawi yang mengepung dari timur sampai tebing utara maupun tebing selatan. Dan mereka mengawasi semua itu—dan sampai di situ kisahnya jadi membingungkan. Ceritanya jadi membingungkan karena kita mendapatkan satu sumber tertulis utama, dan itu adalah cerita Josephus sendiri. Dan ia bercerita pada kita tentang bunuh diri massal sebelum Flavius Silva dan pasukannya naik ke atas gunung.

Jendral Romawi Flavius Silva, yang membangun ram itu, tiba-tiba memutuskan, pada hari ram itu rampung, untuk mengijinkan pasukannya mundur ke belakang dan tidur nyenyak satu malam penuh sebelum mereka bisa menyerbu kamp itu. Dan ini merupakan salah satu petunjuk yang membuat para peneliti dan pembaca Josephus mengernyitkan alis: anda tidak akan mengharapkan hal seperti itu dari seorang jendral Romawi yang brilyan. Mengirim pasukan mundur dan makan enak, lalu tidur nyenyak sebelum mereka bisa menghabisi nyawa 600 lelaki, wanita, dan anak-anak. Anda bisa bayangkan, mereka jelas bukan musuh yang sangat kuat.

JOSEPHUS VERSUS ARKEOLOGI

Bagaimanapun juga, itulah yang diceritakan oleh Josephus pada kita, dan keesokan harinya ketika mereka datang dan akhirnya menjebol tembok benteng dengan balok pembobol, mereka tidak menemukan satu orang pun di sana kecuali tempat sunyi dan mayat-mayat bergelimpangan korban bunuh diri massal. Dan hal itu membawa kita pada pertanyaan ini, siapa yang benar? Josephus atau arkeologi? . . . . Kisah yang bisa kita rekonstruksi dari temuan-temuan arkeologis berbeda dari kisah Josephus. Kita tidak menemukan 630 kerangka dalam puing-puing yang diekskavasi oleh para arkeolog di Masada pada 1963 sampai 1965. Yang kita ketemukan adalah 25 kerangka di sebuah gua bawah tanah besar di tebing selatan gunung, yang mungkin adalah pengungsi yang berhasil selamat dari bunuh diri massal itu, atau mungkin juga bukan. . . . dan tiga kerangka lain, yang satu dari orang dewasa, yang dua anak-anak, di situs itu—cuma itu. tidak ada jejak sisa-sisa manusia sama sekali di situs Masada-nya sendiri. Yang membuat kami merenungkan makna hal ini dalam Josephus, dan makna yang diciptakan oleh interpretasi arkeologis mengenai fakta-fakta itu. Jelaslah bagi Josephus, yang hidupnya ditunjang oleh kaisar Roma di Roma setelah perang usai, yang dulu berangkat sebagai seorang jendral dan akhirnya berubah menjadi pecinta damai, mungkin dia menggunakan penulisan sejarahnya untuk menciptakan sebuah apologi bagi patron-patron Romawinya atas kejadian-kejadian itu. Dan ia membuat bunuh diri, sebuah gaya sastra Hellenistik yang bagus, menjadi wahana bagi apologi ini. Di pihak lain, para arkeolog yang mencermati kejadian-kejadian itu memasang mata betul-betul untuk menjadikan kisah “Masada tidak akan jatuh!” menjadi sebuah frasa sejarah interpretif modern—untuk membuat kejadian-kejadian itu, dan untuk membuat data ini, menjadi sebuah simbol bagi Israel modern dan posisi mereka dalam konflik Timur Tengah modern. Jadi di sini politik dan nasionalisme, saya rasa, telah mempengaruhi cara kisah itu diceritakan oleh para arkeolog kontemporer.

Selain tidak adanya sisa-sisa kerangka, saya harus mengatakan bahwa dosa paling berat bagi seorang Yahudi adalah bunuh diri. Itu adalah salah satu dari hal-hal yang paling tidak diharapkan yang akan datang dari sekelompok orang-orang Yahudi yang saleh, apalagi Zealot, di abad pertama. Orang-orang juga mempertanyakan hal ini sebagai salah satu alasan untuk meragukan kebenaran dan ketelitian naratif Josephus. . . . . Tidak ada kejahatan yang lebih besar, tidak ada dosa yang lebih besar dalam Yudaisme selain bunuh diri. Itu bukan hanya penghinaan terbesar terhadap Tuhan yang penuh kasih, tetapi juga menjadi satu-satunya alasan dengan mana orang Yahudi dilarang dikuburkan di kuburan Yahudi. . . . . .

Jika tidak ada tulang belulang, jika tidak ada bunuh diri massal, apa yang terjadi pada semua orang itu? Pada hemat saya, pasukan Romawi itu barangkali, sesudah menjebol tembok benteng, lalu menyerbu kompleks itu, memburu semua zealot yang ada, semua makluk hidup yang ada, membunuh mereka, dan melemparkan mereka ke tebing karang. Dan mayat-mayat itu terutrai secara alami setelah sekian puluh tahun, dan tulang-tulang mereka hanyut bersama sekian kali air banjir ke Laut Mati.

[Lebih jauh mengenai kisah Josephus dan bukti arkeologis tentang bunuh diri itu, baca artikel Shaye Cohen: “Masada: Literary Tradition, Archaeological Remains, and the Credibility of Josephus”]

Holland Lee Hendrix:

President of the Faculty Union Theological Seminary

PERSPEKTIF ROMA TENTANG MASADA

Dari sudut pandang seorang serdadu Romawi, Masada pasti merupakan pemandangan yang benar-benar tidak menyenangkan, tetapi pada saat yang sama juga merupakan kejadian yang sangat melegakan. Pasukan Romawi sudah lama berusaha menaiki Masada dengan menggunakan segala strategi dan taktik terbaik mereka. . . . Tetapi anda tahu, pasukan Romawi itu juga menyukai pertempuran yang bagus dan fakta bahwa sekelompok orang yang melindungi dan membentengi Masada melakukan bunuh diri barangkali akan menjadi sumber kekecewaan sangat besar bagi pasukan Romawi. Mereka sendiri pasti ingin menghukum  orang-orang itu, atau setidak-tidaknya menundukkan orang-orang itu, tetapi itu juga sangat melegakan karena Masada menghadapkan tantangan militer strategis besar bagi legiun-legiun Romawi. . . . .

Masada dibangun diatas dataran tinggi yang sangat curam, dan beneng-benteng didirikan, dan andaikata anda seorang serdadu Romawi atau jendral Romawi, saya kira anda akan masgul karena anda tahu anda harus terlebih dulu meluangkan waktu banyak untuk membangun banyak ram, ram-ram yang kokoh agar pasukan bisa naik ke atas untuk menjebol tembok-tembok benteng, tetapi anda tahu bahwa membuat ram itu sendiri adalah misi bunuh diri, karena selama itu pula para penjaga Masada pasti akan menghujani anda dengan benda-benda mematikan, yang bisa mengakibatkan kerugian besar pada pasukan. Jadi andaikata anda seorang serdadu Romawi atau jendral Romawi, anda akan dengan serius memikirkan korban besar pada pasukan penyerbu. Tentu saja ironinya adalah, bahwa ketika serdadu-serdadu itu akhirnya berhasil menjebol tembok-tembok itu, bukan mereka lah yang menjadi sasaran serangan bunuh diri, tetapi para penjaga Masada lah yang bunuh diri secara massal. Jadi ada ironi yang kejam dalam keseluruhan kisah tentang  jatuhnya Masada itu.

L. Michael White:

BAR KOCHBA —PEMBERONTAKAN KEDUA

Hubungan antara Yudaisme dan kristianitas di awal abad kedua pasti menjadi semakin lama semakin memanas antara lain akibat kekuatan-kekuatan politik yang terus berkembang.  Harapan-harapan politis dari apokalipse tidak mati begitu saja sesudah pemberontakan pertama; beberapa orang, baik dari tradisi Kristen maupun tradisi Yahudi, masih mengharapkan terjadinya sebuah peristiwa besar yang akan mendatangkan kerajaan surga ke atas bumi dalam waktu dekat. Akibatnya, dalam waktu 60 tahun sesudah pemberontakan pertama, meledaklah sebuah pemberontakan baru. Secara tipikal ini kita sebut Pemberontakan Yahudi Kedua atau pemberontakan Bar Kochba. Dan nama itu diambil dari seorang pemimpin pemberontak Yahudi yang menjadi tokoh sentral dari periode politik baru itu. Ia dijuluki Bar Kochba. Tetapi itu bukan namanya yang sebenarnya—itu adalah sebuah gelar messianik. Bar Kochba berarti “putera sang bintang.” Itu adalah gelar yang diambil dari Kitab Bilangan sebagai acuan pada tradisi Davidik. Itu adalah sebuah gelar raja. Bintang itu adalah bintang Yudah, salah satu simbol harapan politis dari tradisi apokaliptik. Namanya yang sebenarnya adalah Shimon Bar Kosova, dan kemungkinan besar ia berasal dari keluarga bangsawan dalam tradisi Yahudi. Tetapi ia mengklaim sendiri gelar messianik itu dan mengklaim bahwa tahun 132 adalah saat bagi sebuah kerajaan baru untuk dibangun kembali di Israel. Rupanya ia berhasil menguasai Yerusalem untuk jangka waktu tertentu. . . . . Ada kemungkinan, tetapi kita tidak begitu pasti tentang hal ini, ia beranggapan ia sendiri juga mampu membangun kembali Bait Allah. Tetapi kejadian-kejadian tidak membiarkan hal itu terwujud.

Pasukan Romawi dengan sangat cepat memadamkan pemberontakan itu dan dalam tempo tiga tahun semua orang yang pernah mengikuti Bar Kochba dibunuh atau dicerai-beraikan. Kisah tentang pemberontkaan Bar Kochba adalah salah satu dari kisah-kisah paling tragis dalam sejarah Yahudi karena pemberontakan itu hanya semakin memperparah pengosongan negeri itu dan semakin meluluh-lantakkan ekonomi orang-orang Yahudi. Para pejabat Roma tak kenal ampun dalam memadamkan setiap tanda-tanda pemberontakan; mereka tidak bisa membiarkan hal itu terjadi lagi. Dan karena itu kita temukan. . . . bukti tentang pemberontakan Bar Kochba benar-benar menjadi mimpi buruk bagi para arkeolog. Belum lama ini penemuan gua-gua di sekitar Laut Mati memberikan informasi langsung mengenai pemberontakan Bar Kochba itu. Rupanya para pemberontak yang mengikuti Bar Kochba bersembunyi di gua-gua dalam tahap-tahap akhir peperangan itu, tetapi kita tahu bahwa pasukan Romawi tahu di mana mereka berada dan pasukan Romawi cukup berkemah di atas bukit sambil menunggu mereka mati kelaparan atau keluar dan menyerah. Tetapi tekad mereka begitu kuat karena banyak dari mereka tetap nekad bertahan. Salah satu dari gua-gua itu dijuluki ‘gua horor ‘ dan itu berisi lebih dari 40 kerangka manusia, laki-laki, perempuan, dan anak-anak, yang memilih mati ketimbang menyerah pada pasukan Romawi. Satu gua lagi dijuluki ‘gua surat’ dan di situ ditemukan kotak-kotak gerabah dan koin-koin dan barang-barang keperluan hidup sehari-hari. Mereka tinggal dalam gua-gua itu dalam jangka lumayan lama dan barangkali akan terus seperti itu andaikata mereka tidak mati karena kelaparan.

PEMBERONTAKAN KEDUA MEMICU PEMISAHAN YAHUDI-KRISTEN

Satu hal penting benar-benar terjadi dalam pemberontakan kedua itu, yaitu bahwa identitas messianik dan apokaliptik Bar Kochba yang ia nyatakan sendiri itu mendorong menguatnya tradisi Kristen. Rupanya beberapa orang dalam pemberontakan itu berusaha mendesak orang-orang lain, termasuk orang-orang Kristen, untuk terlibat dalam pemberontakan itu, dengan mengatakan, “Mari gabung dengan kita melawan orang-orang Roma. Kalian percaya Tuhan akan memulihkan kerajaan Israel ‘kan? Ayo gabung.” Tetapi orang-orang Kristen waktu itu mulai mengatakan, “No way, mana mungkin dia messiah—kami sudah punya messiah.” Dan di titik itu kita benar-benar melihat pemisahan penuh antara tradisi Yahudi dengan tradisi Kristen menjadi sangat jelas.

Ada sejumlah temuan penting dari periode pemberontakan kedua itu yang bisa dengan tepat menunjukkan pada kita apa yang terjadi pada waktu itu: koin-koin, misalnya, yang dicetak oleh pasukan pemberontak di bawah Bar Kochba, yang bertuliskan, misalnya, “tahun pertama penebusan Israel.” Mereka benar-benar beranggapan mereka telah mendirikan kerajaan baru itu. Koin-koin lain menunjukkan gambar Bait Allah yang direstorasi. Dan mungkin mereka mengira akan membangun Bait Allah kembali.

Kita harus ingat bahwa salah satu pendorong pemberontakan kedua adalah kecurigaan di pihak banyak orang Yahudi bahwa kaisar Romawi Hadrian berencana akan membangun sebuah kuil Yupiter di Yerusalem itu sendiri. Dan tentu saja itu akan menjadi anathema bagi setiap orang yang beragama Yahudi.  Jadi gagasan tentang pemulihan kembali kerajaan itu sebenarnya bukan sekedar sebuah konsep spiritual, tetapi juga sebuah realita politis di benak mereka.

Nah, di antara surat-surat yang ditemukan dalam gua surat itu ada satu yang berasal dari Bar Kochba sendiri. Dan itu adalah surat yang sangat menarik karena surat itu dialamatkan kepada Bar Menachem, dan meminta teman-teman dan pengikut-pengikut Kochba untuk membawakan barang-barang tertentu ke gua itu. Jadi mereka berharap masih bisa bertahan lama. Barang-barang yang diminta didatangkan itu termasuk  daun myrtle, sitrun, cabang palem. Sungguh, kedengarannya mereka sedang bersiap untuk merayakan perjamuan paskah. Harapan-harapan pemberontakan kedua itu sama persis dengan pemberontakan pertama, yaitu bahwa Tuhan akan datang membebaskan mereka dan membangun kerajaannya.

Judul asli: “The Jews and the Roman Empire”

Sumber: http://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline.

Terjemahan: Bern Hidayat 7 Desember 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: